Sabtu, 11 Mei 2013

I Want You To Cry For Me (part 3)


AUTHOR PoV

Seminggu berlalu sejak pertemuan Harry dengan Mia. Dan pagi ini di sekolah, Harry panik seketika.
“Anak-anak, kenalin ya, ini murid baru.”
‘Tuhan, sampai kapan kau akan menguji hati ini?’ batin Harry. Rasanya dia ingin menggebrak meja. Dia merasa orangtuanya sudah keterlaluan.
“Kenalkan, nama saya Mia.”
Risa memperhatikan murid baru itu dengan seksama. ‘Kenapa cewek itu merhatiin Harry terus?’ tanyanya dalem hati. ‘Dia kenal sama Harry? Harry kenal sama dia?’
“Kok dia merhatiin Harry terus, ya? Senyum-senyum gitu lagi.” bisik Vita.
“Jangan-jangan calonnya Harry… Hayoloooh…” ledek Dea.
Ya, mereka nggak tau kalo sebenernya itu emang calonnya Harry. Sampai pas jam istirahat…
“Sa, ke kantin yuk.” ajak Harry. Yang diikuti oleh anggukan setuju oleh Risa.
“Kita nggak di ajak?” tanya Vita. “Gitu ya…”
“Ya udah, tinggal ngikut aja… suka ribet gitu…” balas Harry. Intinya Harry udah nggak mau ada di kelas. Bukan, dia nggak mau satu ruangan sama Mia.
“Harry gue ikut dong.”
‘SPEAK OF THE DEVIL!’ batin Harry kesal.

RISA PoV

“Nggak ada!”
“Harry, jangan kasar gitu.”
“Udah ah, yuk!” tukas Harry sambil narik tangan gue dan ninggalin Mia. Moodnya jelek banget hari ini…
“Kenapa sih, Har?” tanya gue.
“Nggak apa-apa. Risa, janji ya jangan pernah ngobrol sama Mia.”
“Eh? Emang kenapa?”
Harry cuma mendesah. “Maaf ya, Sa…” jawab Harry.
Selama di kantin Harry diem aja. Entah dia lagi mikir atau nahan amarah atau gimana, gue nggak tau. Kedua temen gue juga heran ngeliat dia. Suasana diantara kami pun jadi super canggung.
“Kayaknya ini mesti kalian omongin berdua… kita nggak bisa ganggu.”
“Bener, jadi kita ke kelas duluan ya…”
Bisa banget mereka berdua…

HARRY PoV

“Gue belom mau putus!”
“Eh, yakin? Apa nanti orang tua Mia nggak marah?”
“Biar! Mereka seenaknya banget!”
“Harry… jangan maksain. Kenapa nggak dicoba aja? Siapa tau lo cocok sama Mia?”
“Maksud lo apaan sih?! Dari kemaren kayak gitu! Gue tau lo emang mandiri, lo pasti bisa tanpa gue! TAPI GUE NGGAK BISA!”
Dia nggak jawab apa-apa, cuma senyumnya bikin sakit. Ya ampun… dia masih aja senyum padahal keadaannya begini. Padahal kalo mau nangis sih nangis aja.
Padahal gue cuma mau dia lebih terbuka sama gue. Jangan nyembunyiin perasaanya sendiri.

RISA PoV

Gue senyum, bukan senyum bahagia sih, tapi gue nggak suka keliatan lemah. Apalagi di depan orang yang gue suka. Masalahnya, ngamukpun nggak ada gunanya. Nangis? Gue udah terlalu capek buat nangis…
Dia kira gue bisa mandiri. Kalo gue bisapun, gue nggak akan butuh dua temen yang selalu ada sama gue. Dan buat apa gue mau jadian sama dia kalo gue bisa tanpa dia?
Tapi gue harus bilang apa?
“Gue juga nggak tau harus gimana kalo lo nggak ada.”
“Gue nggak kemana-mana kok.”
“Ih, maksudnya gue nggak bisa kalo lo nggak ada di samping gue.”
“Gitu dong…”
“Eh?”
“Jangan bikin gue bingung. Selama ini gue bingung sama perasaan lo. Lo bilang suka sama gue, tapi lo pasrah pas ada berita gini. Gue jadi merasa nggak dibutuhin tau nggak! Harusnya lo bilang aja. Jangan malu-malu.”
“Bukan malu… gue cuma nggak suka keliatan cengeng. Apalagi di tempat umum kayak gini.”
Harry senyum sambil ngusap kepala gue, gemes. Muka gue seketika panas.

AUTHOR PoV

Tanpa sadar, ada seseorang yang merhatiin mereka. Dan dia bertekad dalam hati bakal bikin mereka berdua pisah.

[start flashback]

“Ayah.” panggil Mia.
“Apa? Gimana tadi jalan-jalan sama Harry?”
“Asik sih, tapi dia-nya jutek gitu.”
“Ooh, ayahnya bilang emang dia malu-malu gitu anaknya.”
‘Dia itu nggak mau dijodohin tau!’ tukas Mia dalam hati. Tapi dari awal dia liat Harry, dia suka. Makanya bagaimanapun caranya, dia harus buat Harry berpaling dari pacarnya.
“Ayah, pindahin aku ke sekolah Harry, dong.”
“Kenapa? Nanggung banget ‘kan kalo pindah sekarang?”
“Iya sih, tapi aku mau deket sama Harry. ‘Kan calon, masa nggak kenal.”
“Iya juga ya… ya udah deh.”

[flashback end]

“Gue harus gimana ya?” gumam Mia pada dirinya sendiri. “Ah! Gue tau…”

HARRY PoV

“Harry, pulang bareng dong! Mia nggak ada temen nih.”
Ih, apaan sih nih cewek?!
“Sorry, gue udah pulang bareng Risa. Lo juga di jemput sama supir, ‘kan?”
“Supir Mia nggak bisa jemput…” jelasnya dengan nada sok imut. Geli lo! Nyebut diri sendiri pake nama!
“Derita lo.” Jawab gue sedatar mungkin. “Udah, pulang yuk, Sa.”
Gue ninggalin dia dan pergi bareng Risa. Terserah deh dia mau gimana juga.
“Harry, dia ‘kan calon lo…” bisik Risa. Gue nggak peduli.
“Gue nggak mau punya calon manja macem dia.”
Gue kira dia bakal berhenti sampe situ, tapi bahkan sampe gue mau ngeluarin mobil dari parkiran aja dia masih ngejar gue. Gila nih, cewek!
“Harry… Mia nggak tau mau pulang naik apa…”
“Banyak angkutan umum kali, ada bis. Naik ojek juga bisa. Mau elitan? Naik taksi gih!”
“Harry, jangan gitu!”
Emosi gue memuncak gara-gara ini cewek. Sial!
“Ya udah naik!”
“Maunya di depan. Kalo di belakang Mia suka pusing…”
ASDFGHJKL BANGET INI CEWEK!
“Ya udah, gue pindah ke belakang.” ujar Risa ngalah. Aduh, yang satu maksa, yang satunya lagi kelewat baik…
Di jalan pun, dia masih aja mencoba manja-manjaan.
“Harry, kita main ke mall dulu, yuk.”
“Nggak ada, gue mau ngaterin Risa pulang.”
“Ya udah, anterin aja dulu, abis itu kita ke mall.”
Nggak ada suara di belakang.
“Risa?”
“Ya?”
“Gue kira lo tidur. Hahaha.”
“Hehe, ini juga udah ngantuk. Udah, yang fokus nyetirnya. Ntar nyium truk lagi.”
“Hahaha, iya iya…” sahut gue sambil mengedarkan senyum ke Risa lewat kaca. Wajahnya memerah, lucu.


AUTHOR PoV

Tiada hari tanpa Mia mengganggu aktivitas Harry. Terutama saat Harry lagi ngobrol penting sama Risa.
“Demi apapun kalo boleh gue bunuh, udah dari kemaren dia gue jedotin ke tembok!”
“Heh!” seru Vita.
“Apa! Lo tau nggak rasanya di buntutin? Nggak, di stalkerin lebih tepatnya.”
“Harry, lo masih sama Risa meskipun lo udah di jodohin?” tanya Dea. Untung aja Risa lagi di toilet. “Dan lo terus-terusan menjauh dari Mia.”
“Gue nggak suka sama dia.”
“Iya, gue tau… Cuma ada saatnya lho,” Harry mendengarkan kedua teman Risa dengan seksama. “Ada saatnya dimana Mia bakal ngadu ke ayahnya atau ke ayah lo.”
“Bener! Nggak akan ada seorang ayah yang suka anak gadisnya diperlakukan kayak gitu. Mereka pasti bakal nyuruh lo ninggalin Risa.”
“Cepat atau lambat pasti kayak gitu. Atau mereka bakal mencaci-maki Risa, kita nggak mau.”
Harry terdiam. Dia nggak mau Risa disakiti atau tersakiti.
“Kita tau, kita ‘kan cewek.”
“Nah, lo udah siap, Har?”
Ya, bagaimanapun dia harus ngambil keputusan.

--(to be continued)--

I Want You To Cry For Me (part 2)


AUTHOR PoV

“Tumben lo nggak sama Harry. Kemana dia?” tanya Vita.
“Sa, mata lo kok merah?” tanya Dea pelan. “Abis nangis ya?”
“Nggak kok, sok tau ih!”
“Masa berantem sama Harry.”
“Nggak lah...” jawab gue. “Tapi...”
Akhirnya Risa menceritakan semuanya.
“EH?!” teriak Dea dan Vita bersamaan.
“Hush! Berisik banget sih!”
“Terus dia marah sama lo dan ninggalin lo gitu aja kayak hari ini? Kenapa dia yang marah?”
“Bukan, lo tuh terlalu berusaha bersikap tenang.” jelas Vita. “Kalo lo sayang sama dia, harusnya lo panik, harusnya lo sedih…”
“Ya gue juga nggak mau kali. Tapi itu ‘kan keputusan orangtuanya.”
“Percuma lo bilang gitu ke kita. Lo harus bilang langsung sama dia. Dia maunya lo punya perasaan nggak mau kehilangan dia.”
“Udah heh, anak orang nangis ini ntar.” sela Dea begitu liat mata Risa udah berkaca-kaca.

HARRY PoV

“Selamat pagi.” sapa ayah ke kenalannya. Gue ikut nyapa dengan tampang datar. Gue cuma mau nunjukin ke mereka semua kalo gue nggak minat sama kegiatan kayak gini.
Sial! Risa, tolong gue…
Nggak lama, setelah bercakap-cakap, temen ayah manggil anaknya yang mau dijodohin sama gue. Mereka maksa banget deh, nggak liat apa muka gue udah nggak mau gini? Dia akhirnya masuk ke ruangan sambil membungkuk dan mengucapkan salam. Berlaga seakan dia orang jepang atau korea atau cina, ya terserah lo deh.
“Ayo dong kalian kenalan.” ujar temen ayah tiba-tiba.
“Hmm, namaku Mia.” ucapnya sambil senyum. Manis, sih… eh?
“Harry.” Sekian.
“Harry, kamu jangan dingin begitu dong. Sana kalian jalan-jalan aja.” kata ayah memukul lenganku pelan. “Dia suka malu-malu gitu anaknya.” Sambungnya pada temannya.
PLEASE DEH, GUE NGGAK MALU-MALU! GUE ITU NGGAK MAU BUKAN MALU-MALU!
Meskipun itu cuma teriakan dalem hati gue, berasa banget capeknya. Napas gue sesak…
“Eh, asal lo tau ya. Gue nerima perjodohan ini cuma buat nyenengin orangtua gue.” jelas gue di dalem mobil. Ya, gue memutuskan untuk pergi dari ruangan itu. Tapi syaratnya gue harus ngajak Mia. Sial.
“Gitu, ya? Lo pasti ngomong kayak gitu karena udah punya pacar.”
“Iya.”
“Terus lo putusin dia, dong?”
YA NGGAK LAH!!! “Nggak berniat mutusin, kok.”
Seketika itu juga dia diem. Puas lo?
“Mudah-mudahan cepet lo putusin deh pacar lo.” katanya pelan, pelan banget.
Tapi… lo kira gue nggak denger, apa?! “Maksud lo apa?”
“Kita ‘kan udah dipasangin. Jadi nggak boleh punya pasangan lagi.”
“Gue ‘kan nggak suka sama lo.”
“Bukan nggak, tapi belum. Kita ‘kan baru ketemu. Cinta tuh butuh proses, Har.”

RISA PoV

Sms nggak ya? Sms nggak ya? SMS NGGAK YA?!
‘Harry kemana? Kok tadi nggak jemput gue?’ Jangan gitu…
‘Harry? Lo marah sama gue?’ jangan… ntar malah marah beneran…
‘Harry? Kenapa tadi lo nggak masuk?’ Ini paling aman, tapi kesannya seakan nggak ada hal aneh yang terjadi…

To: Harry
Halo? Ada orang kah?

DRRRT~

From: Harry
What? Kangen ya sama gue?
Hahaha

Ih, dasar, haha. Jangan bikin gue bingung dong…

To: Harry
Apa itu kangen? Hehe…
Tadi lo kemana?

From: Harry
Gitu, ya… nggak kangen, ya… liat aja lo!
Tadi? Keppo, ah~ :p

To: Harry
Pasti ketemuan sama calon, ya?
Selamat, ya…

DEG!

From: Harry
Sa, lo seriusan ngomong gitu? Lo mau kita bubaran?

To: Harry
Nggak lah… tapi lo nerima perjodohannya ‘kan?

HARRY PoV

Bener juga. Bukan salah Risa juga kalo gue sama dia bubaran. Berhubung gue sendiri yang nggak nolak perjodohannya. Nggak bisa nolak, lebih tepatnya. Kok gue bego, sih?
Dan bodohnya sekarang gue kepikiran kata-katanya Mia. Cinta butuh proses. Antara takut dan panik, juga nggak mau percaya. Gue takut kalo nantinya gue beneran suka sama Mia. Gue panik kalo sampe gue nggak suka lagi sama Risa, dan malah nyakitin dia. Terakhir, gue nggak mau percaya sama dua hal barusan yang kemungkinan besar akan terjadi. Masalahnya, siapa yang tau apa yang akan terjadi nantinya?

To: Risa
Maaf, ya…
Tapi gue belom mau bubaran! Jangan mutusin sendiri!

DRRRT~

From: Risa
Eh? Sampe kapan ya kira-kira gue masih bisa sama lo…?
Meskipun gue mau selamanya, tapi nggak bisa, ya... Haha ^_^

Aduh, sakit banget gue bacanya. Apalagi dia pake emot fake smile gitu. Gue juga mau selamanya, Sa…

--(to be continued)--

I Want You To Cry For Me (part 1)

AUTHOR PoV

Di janji pertemuan kali itu, Harry bertekad untuk mengatakannya. Sebenarnya dia nggak mau, tapi...
“Risa...”
“Ya?”
“Sorry, Sa...”
Harry terdiam. Dia cuma memandangi cappucino yang dia pesan di cafe itu, sedikitpun belum dia teguk. Tingkah lakunya membuat Risa penasaran, lebih ke bingung sebenarnya.
“Apaan sih, Har? Kenapa lesu gitu?”
“Gue dijodohin sama orangtua gue.”
Mau bagaimana lagi? Dia tidak ingin berlama-lama dalam posisi menyimpan rahasia besar ini dari orang yang disayanginya.
“Hmm... lo terima?”
“Gue nggak bisa nolak, Sa... Perusahaan ayah gue bisa ancur...”
“Hmm, bisnis, ya? Kalo gitu mau gimana lagi?”

DEG!

Seketika hati Harry hancur. ‘Udah? Gitu doang?’ tanya Harry dalam hati.

RISA PoV

DEG!

Eh?! Dijodohin?! Bisnis?!
“Risa...”
“Ya udahlah. Itu ‘kan permintaan orangtua lo.”
“Jadi lo ngerelain gue sama orang lain?”
“Mau gimana lagi? Gue bisa apa?”
Tiba-tiba Harry bangun dan langsung pergi ke kasir, pasti bayar pesenan gue sama dia. Abis itu dia langsung aja ninggalin gue sendirian.

NYUT

Kenapa? Lo marah? Apa lo kira gue nggak sedih? Lo juga bilang lo nggak bisa nolak permintaan ayah lo tadi. Bukan lo doang, gue juga sakit dengernya!
Sakit lho, Har…

HARRY PoV

Terus dia nggak ngapa-ngapain gitu? Cuma pasrah aja? Temen-temen lo bilang, lo peduli sama gue. Mana? Bahkan lo pasrah aja begitu tau gue dijodohin sama orang lain! Kenapa, Sa?! Kenapa lo nggak bisa sedih? Kenapa lo nggak bisa nangis buat gue?!
Detak jantng gue nggak karuan. Napas gue sesak. Kepala gue sakit. Anjir, Harry lo ‘kan cowok! Masa iya lo mau nangis?! INI TEMPAT UMUM, LHO!
Gue nggak boleh nangis! Jadi gue cuma bisa mukul-mukulin stir mobil.
“Risa!”
Nggak bisa... gue nggak boleh nangis...

Tes... tes...

AUTHOR PoV

Di temat yang berbeda namun di waktu yang bersamaan, keduanya menunduk. Keduanya juga sama sama memegang dada masing-masing, merasakan sakit yang menyembul keluar entah dari mana. Air mata mereka pun jatuh, hati mereka saling menangisi satu sama lain. Kenyataan memang pahit.
“Risa...”
“Harry...”
Keduanya menyebutkan nama orang yang merka tangisi.

[start flasback]

“Gue udah makan nih!”
“Kenyang?”
“Risa! Jangan alihin pembicaraan kenapa, sih!”
“Kan gue nanya...”
“Gue mau jawaban lo!”
Risa nggak tau harus jawab apa. Ini semua terlalu mendadak. Jantungnya nggak kuat kalo mesti gini terus. “Gue...” Jantungnya mau meledak! Sambil menutup mukanya dengan kedua tangan, dia menjawab, “Ah!”
“Kok malah teriak sih!?” seru Harry kaget, juga bingung.
“Gue mau!” jawab Risa dalam tangkupan tangannya. Jawabannya lebih terdengar seperti, ‘Huwe mwao!’
“Hah?”
“Gue mau!” kali ini tangannya hanya menutup matanya. Tapi Harry masih tetap pura-pura nggak dengar.
“Yang jelas dong!” seru Harry sambil tersenyum.
“Gue mau! Udah ah, jangan tanya lagi!” sahut Risa malu-malu. Harry cuma terkekeh mendengarnya.

[flashback end]

RISA PoV

Kepala gue sakit. Mungkin semaleman gue nangis. Bahkan gue tidur dalam tangisan gue. Makanya, pagi-pagi mata gue bengkak. GAWAT!
Biasanya Harry jemput gue, tapi hari ini nggak... nampaknya. Jadi gue berangkat naik bis aja. Apa dia nggak masuk sekolah? Masuk nggak ya dia?
Biasanya dia nggak ngebolehin gue naik bis. Dia bilang, “Jangan! Tunggu gue jemput lo! Awas aja berangkat duluan!” ujarnya sambil nyubit pipi gue, sakit lho itu, sumpah! Bukan unyu-unyu gitu...
Ya, semenjak itu, dia rajin masuk sekolah. Jarang bolos pelajaran juga, makanya temen-temen sekelas juga guru-guru pada heran. Tapi pada dasarnya dia orangnya nggak peduli sama orang sekitar yang suka ngomongin dia, jadi ya udah.
“Terserah mereka lah mau ngomong apaan juga.”
Hiks... Harry, lo kemana?

HARRY PoV

Keraguan pun menghantui gue pagi ini. Biasanya gue jemput Risa. Tapi karen kejadian kemaren gue nggak tau harus gimana. Bahkan tadi malem aja gue nggak sms dia, begitu juga sebaliknya. Jemput nggak ya? Jemput deh... mau minta maaf...
“Harry. Mau kemana?” tanya Ayah tiba-tiba, baru aja gue mau ngeluarin mobil.
“Sekolah lah...”
“Udah, hari ini kamu ijin. Ikut Ayah ketemu calon kamu.”

DEG!

GUE NGGAK MAU! GUE MAU KETEMU RISA! Tapi nggak mungkinlah gue neriakin ayah kayak gitu. Lagian ini menyangkut karir ayah. Sumber kehidupan gue juga...
“Harus hari ini, Yah?”
“Iya, anaknya bisanya hari ini.”
“Kenapa nggak hari libur aja, sih?”
“Nggak bisa, katanya cuma bisa hari ini... Tolonglah, ijin sehari aja, Har... Ini urusan bisnis, lho. Kalo Ayah sampe bangkrut ‘kan kamu juga yang susah nantinya.”
Ya, gue nggak bisa nolak permintaan penting begitu, ‘kan?
Gue cuma bisa mendesah, desahan yang panjang. Rasanya pengen jedotin kepala ke stir mobil! Tapi sakit. Jadi gue cuma nundukin kepala di stir itu.
“Risa, maafin gue...”

--(to be continued)--

Jumat, 10 Mei 2013

Krunchy Family - "Bulir-bulir Jeruk"


Kalian tahu?

Kehidupan cinta keluarga ini makin membingungkan. Terutama si Krispi. Padahal dia yakin dia suka sama senpainya, bukan Megaichou-nya Kriuk! Tapi katanya, Kriuk sudah merelakan Megaichou-nya buat Krispi. Tetep aja, Krispi nggak mau.

Emang sih, dia pernah suka sama si Megaichou. Dan dia terus-terusan mengutuk dirinya yang pernah suka sama Megaichou. Dan Kriuk kira, Krispi suka sama senpainya cuma sebagai pelarian. YA NGGAK LAH! Dari awal juga dia udah suka sama senpainya.



Well, semua berawal di warung bakso, siang hari sepulang sekolah...
“Tau nggak? Sebenernya gue pernah suka sama si Rush, lho.” – Kriuk.
“Gue juga pernah suka sama si Maidgane.” – Kremes.
“Haha, lo juga suka pernah suka sama Megaichou, ‘kan?” – Krispi.
“Diem! Lo juga!” – Kremes.
Yah, begitulah percakapan nggak penting mereka.



Semenjak semua itu terbongkar, terlihatlah... kalo Kremes disamakan sifat juga sikapnya dengan Maidgane. Secara mereka sama-sama punya jiwa Maid gitu. Kalo mereka ngobrol pun, pasti soal pekerjaan rumah seperti menyapu, menyetrika, dan memasak. Dan Kriuk disamakan sifat juga sikapnya dengan Rush. Karena mereka sesama otaku dan gamers, mereka juga deket banget sebagai teman. Sedangkan Krispi disamakan sifat juga sikapnya dengan Megaichou. Bahkan mereka suka sama orang yang hampir sama... mukanya, tapi beda gender, senpai kembar. Semua pun udah tau kalo mereka suka sama kedua senpai kembar beda gender itu.

Tapi semakin ke sini, Krispi jarang ketemu sama senpainya. Well, secara ‘kan mereka udah selesai UN dan pada mau lulus, jadi mereka jarang banget ke sekolah, nggak pernah malah. Dibilang kangen... YA IYALAH! Tapi semakin ke sini juga, Kriuk malah semakin menjadi-jadi. Selalu aja dia pengen ngepairing Krispi sama Megaichou.



Semua berasal pada hari Rabu, di tengah pelajaran fisika... (Ya Allah, maap ya, Pak –nama disamarkan—) *sujud2*
“Gimana sih main yang ‘TRUE LOVE’ itu?” – Kremes.
“Hah? Yang gimana?” – Krispi.
“Yang nanti namanya di coret, terus ditambah-tambah. Nanti hasilnya persenan gitu.” – Kremes.
“Nggak tau.” – Krispi.
Terus, Kremes nanya Kriuk.
“Oh... gini, lho.” – Kriuk.
Jadilah, sepanjang sisa pelajaran fisika mereka main begituan. Demi apapun mereka nggak inget umur main ginian...
“Coba Kremes sama Rush!” – Krispi.
“Coba Krispi sama senpainya!” – Kriuk.
“Coba Kriuk sama Maidgane!” – Kremes.
Yah, nggak tau gimana bisa bisa, tapi semua hasil Kispi bener2 bikin orang kaget, kecuali sama senpainya.
“Gila! Makanya ‘kan gue bilang... lo sama Megaichou aja...” – Kriuk.
“Apaan sih nggak!” – Krispi.
Tapi ternyata nggak sampe situ aja kerjaan mereka. Sepulang sekolah, mereka masih main gituan di rumahnya Kriuk. Tapi sekarang mereka nyoba lewat game online. Lebih parahnya...
“Seratus persen!” – Kremes.
“Anjir! Tidak!” – Krispi.
“Udah terbukti nih, lo cocoknya sama Megaichou.” – Kriuk.
“Nggak!” – Krispi.
“Udah, senpai lo sama gue! Wahahaha!” – Kriuk.
Nah, semenjak itu lah... Kriuk menjadi-jadi.



Dan sekarang, semua itu menghantui Krispi.



Terus, waktu itu mereka jalan-jalan ke mall. Dan di situ si Kriuk masih aja ngegodain Krispi.
“Tuh, udah mulai timbul bulir-bulir jeruk ‘kan sama Megaichou...?” – Kriuk.
“Apaan sih...” – Krispi.
“Udahlah ngaku aja...” – Kriuk.
“Ih, emang nggak pernah ilang kali!” – Krispi.
Seketika itu juga, Kriuk shock dengan jawaban Krispi.

Bentar, gue mau nyanya... Kalian ngerti nggak maksud dari yang gue ceritain? Masalahnya, gue sendiri bingung gimana nyeritainnya...

Nah, ketahuanlah disutu. Ternyata si Krispi emang masih ada bulir-bulir jeruk sama Megaichou. Ngerti nggak? Jadi emang dia masih suka sama Megaichou, cuma dia nggak mau kalo bulir-bulir itu masih ada. Dan semakin dia nggak mau, bulir-bulir itu semakin banyak yang membelah diri *berasa amoeba* Satu jadi dua, dua jadi empat, empat jadi delapan, delapan jadi enambelas, enambelas jadi tigapuluhdua, tigapuluh dua jadi... *udah hoy!*

Tapi disisi lain, rasa suka Krispi ke senpainya juga nggak berkurang. Dia tambah nggak tau harus gimana disaat kedua temennya malah bikin dia bingung...

Yah begitulah... nggak penting sih, abaikan saja kalo bisa. Bye, minna~

Kamis, 09 Mei 2013

Okay, I'll do It (part 6 - END)


RISA PoV

Risa nggak berhenti-berhentinya sesenggukan. Segimanapun Vita sama Dea nenangin dia, tetep aja air mata yang keluar nggak berhenti-berhenti. Berkali-kali dia ngusap air matanya sendiri, tetep aja nggak berhenti. Napasnya sesak.
“Harusnya gue tahan tadi…”
“Udahlah, Sa… bukan salah lo kok…”
“Kalian jangan nyalahin dia terus kenapa!”
“Gue bukan mau nyalahin dia… tapi mungkin ini kehendak tuhan yang harus dia jalanin.”
“Ya ampun… kenapa harus dia…?” tanya Risa, lebih kepada dirinya sendiri. “Jangan dia… Gue aja… jangan dia…”
“Risa, nggak boleh gitu…” satu per satu, kedua temannya mulai ikut menangis. Suster-suster yang lalu lalang pun memperhatikan mereka.

[start flashback]

Saat itu jam istirahat. Tiba-tiba ponsel Risa bergetar. Ada panggilan masuk. Harry?
“Halo?”
“Halo?!” panggil suara di seberang. “Nama kamu siapa?”
“Hah? Harry, lo apa-apaan sih?”
“Eh, ini, anu… Namanya Harry, ya?”
“Ini siapa sih?”
“Ah, dia kecelakaan. Sekarang ada di RS!”
Risa membatu. Sebenarnya dia nggak percaya. Tapi…
“Rumah sakit mana?”

[flashback end]

Ditengah acara tangis-menangis gue dan kedua temen gue, tiba-tiba dokter keluar dari ruangan. Dia kebingungan melihat kami bertiga yang sama-sama menangis.
“Kalian… teman-temannya Harry?” Kami hanya mengangguk.
“Bagaimana keadaannya, dok?”
“Mm, benturan di kepalanya cukup keras, tapi dia baik-baik saja. Banyak luka memar di tubuhnya. Dia sering berkelahi, ya?” Gue mengangguk. “Hah, dasar anak muda jaman sekarang.”
“Dia baik-baik aja, dok?”
“Iya, tapi dia masih tidak sadarkan diri. Kalian nggak menghubungi orang tuanya?”
“Dok, tolong nanti jangan bilang pada orang tuanya tentang badannya yang penuh dengan luka…” ujar gue sambil nunduk. “Saya mohon…”
Nggak lama setelah gue bilang gitu, ibu Harry datang. Mereka terlihat panik. Ya iyalah, siapa yang nggak panik anaknya kecelakaan?
“Dok, bagaimana keadaan anak saya?” tanya ibu Harry.
“Dia baik-baik saja. Benturan di kepalanya memang keras, tapi ternyata dia anak yang kuat.”
“Ah, syukurlah…” ujar ibu Harry. “Siapa kalian?”
“Ah, kami teman sekolahnya.”
Ibu Harry mengajak kami masuk ke kamar rawat Harry. Duh, mataku terlihat habis nangis nggak, ya? Kan malu…
“Terimakasih ya, sudah mengabarkan tante.”
“Sama-sama tante.”
“Masalahnya anak ini tertutup banget. Apalagi dia cuma tinggal sendiri dirumahnya.” ujar ibu Harry sambil mengelus kepala anaknya. “Kalian bisa nggak jagain Harry? Sebenernya tante sibuk, tapi tante pasti sempetin dateng ke sini tiap pagi sama sore…”
Mending tante minta tolong sama pacarnya aja, deh.

HARRY PoV

“Aduh!”
Duh, kepala gue sakit. Gue dimana? Bau obat… eh iya, waktu itu ‘kan mobil gue tabrakan sama truk. Ganjen banget tuh truk… terus berarti sekarang gue ada di rumah sakit?
“Harry? Udah sadar ya?”
Kayaknya gw kenal nih suara. KAYAKNYAAA….
“Risa?”
“Bukan, Yae lho…”
Eh, salah, ya? Sumpah, malu gue anjir!
“Eh, Harry udah sadar?” tanya seseorang yang gue duga berada di dalam kamar kecil. Suaranya menggema. Gue tersenyum kecil, gue kenal banget sama ini suara.
“Belum.” teriakku menyahutinya. Yae tertawa.
“Ternyata emang nggak bisa ya, Har.”
“Hah? Maksud lo?”
“Keliatan, lho.” ucap Yae. Jangan bikin orang yang baru sadar bingung gini kenapa! Kenapa cewek kalo ngomong suka berbelit-belit sih? “Lo dari dulu suka sama Risa, ‘kan?”
“Sok tau lo!” seru gue. Dia malah nyengir. Kenapa dia bisa nebak gitu, sih? Padahal gue aja baru sadar soal itu… sebelum kejadian ini. Ya, itu pertanyaan gue terakhir kali.
“Udahlah, gue tau. Gue ‘kan merhatiin lo terus.”
“Iya, lo ‘kan suka sama gue.”
“Nah tuh tau. Hahaha.”
“Terus kita?”
“Udahlah. Waktu itu gue cuma kesel sama dia yang deket banget sama lo. Padahal dia baik banget sama lo.”
“Kita selesai, nih? Mulai aja belum…”
Tawa Yae kembali terlepas. Gue cuma bisa ngeliatin dia dengan tatapan kebingungan. “Ya iyalah.” Jawabnya. Gue kembali diserang rasa tidak enak hati. Kenapa gue jadi gini, sih?
“Maaf, ya.”
“Hmm. Gue nggak mau maksain lo, kok.” balasnya sambil tersenyum. “Maaf juga, lo baru sadar udah gue ajak ngobrolin ginian. Udah, gue balik dulu, ya. Cepet sembuh. Cepet kasih gue PJ juga, hahaha.”
Dasar.

RISA PoV

Muka gue panas. Gue masuk ke kamar mandi ini ‘kan cuma buat cuci tangan. Mereka sadar nggak sih, mereka ngobrol kenceng banget? Mana bisa gue keluar kalo obrolannya private gitu. Ih!
“… Udah, gue balik dulu, ya…”
AKHIRNYA!!!
Nggak lama gue denger suara pintu kebuka dan ketutup. Yae udah balik. Baru gw mau megang kenop pintu, BARU MAU GW BUKA TUH PINTU! Tiba-tiba…
“Risa,” Dia manggil nama gue. Eh, tolong! Gue deg-degan! “Mau sampe kapan lo di kamar mandi terus?”
“Sampe lo tidur lagi.”
“Eh, keluar lo!” serunya. “Tega banget lo nyuruh gue nungguin lo selama itu. Gue nggak akan tidur lah kalo lo nggak keluar!”
Ragu-ragu gue buka pintunya. “Kenapa?”
“Gue laper.”
“Mau makan apa?”
“Makan hati lo.”

DEG!

“A… apaan sih…”
“Sorry, Sa. Coba gue sadar lebih cepet.”
“Iya, lo tuh pingsan lama banget.” Sahut gue mengalihkan pembicaraan. Mencairkan suasana juga… SUASANA HATI GUE!!!
“Bukan itu, hoy!” balasnya. “Gue seriusan!”
“Gue juga seriusan kali. Lo tidur lama banget.” Sahut gue. “Setahun gue nugguin lo bangun.”
“Seriusan?” tanyanya panik.
“Kaga lah. Hahaha.” Jawab gue. Dia langsung cemberut. “Udah lo laper, ‘kan? Mau makan apa?”
“Makan hati lo, Risa.”
“Apaan sih, Har. Seriusan gue.”
“Ya gue juga!” Tiba-tiba suasananya hening seketika. Nggak lama dia menghela napas. “Gue baru sadar sebenernya gue juga suka sama lo, Sa. Maaf, Sa…”
“Masa lo suka sama gue…”
“Ya, kalo gue nggak suka sama lo nggak mungkin gue selalu nyari lo buat gue suruh-suruh.”
“Eh, itu bukannya…”
“Apa? Karena gue mau ngisengin lo?” Gue ngangguk. “Nggak lah, Risa.”
“Terus kenapa cuma gue yang lo suruh-suruh?”

HARRY PoV

“Karena gue mau lo marah sama gue.”
“Hah?”
“Risa lo nggak sadar apa?” tanya gue. Dia cuma menggeleng-gelengkan kepala. “Cuma gue yang perintahnya lo turutin!”
“Well, karena nggak ada lagi yang suka nyuruh-nyuruh gue selain lo.”
Ah, iya juga… “Bukan itu maksud gue…”
“Ah, gue nggak ngerti Har.” Tukasnya sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya, bingung. “Udah ah, lo makan dulu aja, ya. Baru juga sadar, ngomongnya udah bikin otak gue berputar-putar.”
“Nih, singkatnya. Gue cuma mau bergantung sama lo, Sa. Makanya gue selalu minta tolong sama lo. Bukan sama yang lain.”
“Oh, terus?” Ih, ngeselin banget ini cewek. Tapi sekilas gue liat, wajahnya memerah. Dia seneng gitu?
“Lo mau jadi pacar gue?”
“Makan dulu baru gue jadi pacar lo!”
“Seriusan?”
“Makan dulu baru gue seriusan.”
Nggak berguna gue ngebantah dia kali ini. Jadi, mending kali ini gue yang nurutin perintah dia.

AUTHOR PoV

Ya, begitulah akhirnya. Bentuk perasaan mereka emang rumit, kayak fungsi limit dan fungsi trigonometri. Nggak aka nada yang bisa ngerti akan hal itu. Tapi untung hasilnya sama.



--THE END--