Kamis, 09 Mei 2013

Okay, I'll do It (part 5)



AUTHOR PoV

PLAK!

“Aduh, si Risa bego banget…” ujar Vita sambil nepok jidat. Dia nguping di balik tembok bareng Dea.
“Hush! Temen itu!” seru Dea sambil mukul tangan Vita.
“Lagian…” sahut Vita meringis sakit.
“Ya susah, Vit. Mau gimana? Namanya orang suka…”
“Iya lo juga sama soalnya!”
“Iya deh… beda lah yang udah move on mah!”
“Tau ah!”

Dua orang yang lainnya sama-sama mematung. Yang satu nunduk, yang satu lagi garuk-garuk leher padahal nggak gatel. Dia bingung harus gimana.
“Masa lo suka sama gue? Gue ‘kan…”
“Apa? Trouble maker?” Harry mengedikkan bahunya.
“Ya… biasanya ‘kan cewek macem lo dan temen-temen lo ngejauhin gue. Nggak ada yang mau berurusan sama gue. Ya ‘kan?”
“Udahlah… maaf…”
“Apa sih, maaf mulu.”
“Maaf gue bilang kayak gini… padahal lo baru aja jadian.”
“Ya… coba lo bilang lebih cepet. Mungkin…” seketika itu juga Harry langsung membungkam mulutnya sendiri. Sedangkan Risa membulatkan matanya. “Udah! Balik ke kelas sana!”

RISA PoV

APA MAKSUDNYA TADI?!
Ah! Gue penasaran!!! Tapi… nggak guna juga. Orangnya juga udah pergi.
Sepanjang pelajaran, gue nggak berhenti deg-degan. Perut gue mules. Masa gue phobia pelajaran? Nggak mungkin. Mana ada…
“Risa, jangan bengong mulu kenapa!”
“Tau nih, kan abis menyatakan cinta.”
“Anjir! Lo liat ya tadi?!” tanya gue panik. Mereka Cuma mengedikkan bahu. Sialan!
“Lo semangat banget menyatakan cintanya. Hahaha…”
“Kok kalian nggak marah?”
“Kenapa marah?”
“Abisnya…”
“Kita nggak marah karena lo suka sama dia. Soal cinta kita ngdukung.”
“Iya, kita cuma nggak suka sama perlakuannya! Padahal lo peduli sama dia, tapi dia malah memperlakukan lo kayak pembantu.”
“Ih, udah ah… jangan ngomongin yang nggak ada di sini…”
“Kenapa? Malu ya abis menyatakan cinta?” mereka pun ketawa. Bahagia banget ketawanya. Gue cuma cemberut ngeliatin mereka ketawa.
“Udah ah, ketawa mulu!” Gue cuma bisa nutupin muka. Asli, muka gue panas.
Meskipun gitu, tetep aja gw cengar-cengir sendiri. Gue baru sadar kalo tadi gue bilangnya di lingkungan sekolah, di ruang terbuka pula! Ah, malu!

HARRY PoV

Anjir! Ada apa dengan lidah gue?! Tadi gue mau bilang apaan coba? AAAAAAAAAH!
“Harry? Mau kemana?”
Gue berhenti lalu nengok ke arah sumber suara. Gue liat Yae muncul dari kelasnya. “Eh, gue…”
“Mau cabut, ya?” tanyanya. Gue cuma mengedikka bahu. “Jangan dong, aku mau ketemu kamu nanti pas istirahat…”
“Wah, hari ini nggak bisa. Maaf, ya…”
Parah, apa yang gue lakukan pada pacar baru gue? Parah parah parah lah! Tapi gue akhirnya sadar… gue nggak suka sama dia. Padahal biasanya gue nggak gini! Sial! Nggak tau lah! Otak gue lagi kacau.
Gue masuk ke mobil dan langsung ngendarain menuju ke jalan raya. Sebenernya gue nggak tau harus kemana. Kemana aja deh, asal gue nggak harus terlibat masalah hati. Apalagi masalah hati orang yang selalu gue suruh-suruh, seakan dia pembantu gue. Gue jadi nggak enak sama dia…
Dan gue baru sadar. Kenapa dia selalu nurutin apa kata gue. Dia suka sama gue. Apapun dia lakukan… demi bisa deket sama gue. Hah… gue nyesel nggak peka sama perhatian dia ke gue. Tapi jangan bilang… sekarang gue suka sama dia? Ah, kok gue jadi aneh gini sih?!

TIIIIIN!

BRUAGH!!!

Ah, sakit…

--(to be continued)--

Okay, I'll do It (part 4)


AUTHOR PoV

Semalaman Risa tidak bisa tidur. Perasaannya bercampur aduk. Sedih? pastilah. Cewek mana yang nggak sedih kalau orang yang dia suka jadian sama cewek lain. Senang? Iya juga. Karena baru kali ini Harry mengiriminya sms. Tentu dia senang. Tapi…
“Woi!”
“Eh! Ya ampuuun! Jangan ngagetin gue mulu kenapa!” ujar Risa sambil ngelus dada, kaget. Lalu memukul pundak Vita.
“Lagi bengon di tengah jalan gini.” Jelas Vita. “Nggak sadar tau-tau ntar udah diculik orang.” Vita terkekeh.
“Ya nggak gitu,” ujar Risa dengan wajah masam. “Lagi ada gitu yang mau nyulik gue?”
“Nggak sih kayaknya.”
“Jahat ih!”
Setelah itu, Risa terdiam lagi. Vita yang berada di sebelahnya mulai bertanya-tanya.
“Risa. lo kenapa? Kok tiba-tiba diem?”
“Harry sama Yae jadian.”
“EH?! SERIUSAN?”
“Duariusan! Elah nggak percaya banget sama gue!”
“Bukan gitu, masalahnya lo tau darimana?”
“Dia sms gue. Nih, baca aja sendiri.” Risa mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Vita.

RISA PoV

Sampai di kelas.
“Bohong!” pekik Dea. Aku langsung menutup mulutnya.
“Nggak usah teriak!” pekikku panik.
“Fix! Jangan pernah turutin dia lagi! Biar aja dia nyuruh-nyuruh pacarnya. JANGAN NYURUH LO!”
Nggak lama Dea ngomong gitu, Harry ngedatengin meja gw. Pasti minta PR.
“Sa, mana? Gue mau li…”
Baru aja gw mau ngasih bukunya, Vita langsung ngerebut. “Nggak ada! Stop nyuruh-nyuruh Risa! stop minta-minta sama dia!”
“Jangan gitu, Ta…”
“Udahlah, Sa! Bisa-bisanya lo masih peduli sama dia! Bahkan disaat dia SAMA SEKALI nggak peduli sama lo!” bentak Vita. Aduh, dada gue sakit.

HARRY PoV

Peduli? Maksud Vita apa sih? Risa peduli sama gue?
Beneran?
Ih, kenapa gue penasaran?!
“Ya udahlah, kalo nggak mau minjemin.” sahut gue di tengan acara teriak-teriaknya si Vita. “Ternyata lo juga sama kayak mereka, Sa.”
“Nggak…”
“Udahlah, kalo lo nggak mau harusnya bilang. Jangan terpaksa gitu.” Demi apapun gw penasaran. Kalo dia emang peduli sama gue dia pasti ngejar gue. Tapi kenapa gue mau banget dikejar dia?
“Gue nggak terpaksa kok…”
“Udah, gue jadi nggak kepengen liat muka lo. Gue mau cabut.” Tanpa basa-basi gw keluar kelas. Di tengah jalan gue sadar. “Aduh si bego, tas gue tinggal di kelas. Mana duit sama kunci mobil di situ lagi.”
“Harry… tas lo…”
“Ngapain lo ngikutin gw? Kan gue bilang gue nggak mau liat muka lo!”
“Maaf…”
“Udah, sini tas gue!” Ya ampun, gue kesel banget. Di saat gue yang salahpun, malah dia yang minta maaf.

Tes… tes…

“Ya ampun…” Ih, nih cewek. “Kenapa nangis sih?!”
“Maaf…”
“Apa sih! Lo nggak salah apa-apa kali!”
“Gue salah karena dulu gw nolongin lo…”
“Hah?” Duh, gue nggak biasa interaksi sama cewek macem dia sih. Apa lagi tiba-tiba nangis. “Maksud lo apa sih?” Duh, kok gue deg-degan sih?
“Karena gue nolongin lo…” KALO NGOMONG JANGAN SEPARO-SEPARO KENAPA SIH! Gue nahan napas. “Gue jadi suka sama lo!”

--(to be continued)--

Okay, I'll do It (part 3)


RISA PoV

Apa Harry masih di kelas? Tadi kayaknya dia mau beneran cabut hari ini. Tapi ‘kan tadi dia nitip lollipop. Masih ada nggak ya? Ada dong…
“Semangat banget sih mau balik ke kelas.” ucap Vita.
“’Kan ada yang nitip lollipop.”
“Ya ampun… segitunya. Hahaha…” kami bertiga pun tertawa.
Tapi tawa kami terhenti, begitu juga langkah kami. Gue nggak tau harus masuk ke kelas atau nggak. Ada moment yang nggak bisa diganggu di dalem kelas. Momen yang bikin dada gue sakit. Tapi kalo nggak masuk, gimana ngasih lollipopnya.
“Sini lollipopnya!” tukas Vita sambil menyambar lollipop dari tangan gue.
Vita membuka pintu kelas dengan kasar. Aku memperhatikannya dari luar kelas. Ia menghampiri Harry dan Yae yang sedang berduaan. Gue bahkan nggak bisa kayak gitu. Vita membanting lollipop itu di atas meja Harry.
“Terimakasih kembali!” bentaknya. Ia langsung saja keluar kelas dan membanting pintu kelas hinga menutup dengan suara yang menggelegar. Menyisakan tanda tanya di wajah Harry dan Yae.
“Wah, nampaknya ada yang mengamuk…” ujar Dea yang berdiri di sampingku. “Pergi yuk, Sa.”
“Iya, tempat ini nggak baik buat jantungmu!” seru Vita masih gondok. Gue nyengir-nyengir aja liat mereka yang begitu baik. Padahal seharusnya gue yang kesel, seharusnya gue yang sedih. Tapi mereka malah ngegantiin gue.
“Jangan sok-sok nyengir gitu…” ujar Dea. “Sedih tau litanya.”
“Ngapain sedih?”
“Tau ah!”

HARRY PoV

Apaan sih, si Vita? Maksud gue, kenapa dia marah? ‘Kan gue nyuruh Risa, bukan dia. Kenapa dia yang ngasih lollipopnya ke gue? Mana Risa?
“Harry, si Vita kenapa?” lamunan gue buyar. Gw natap dia.
“Entah.”
“Harry, tau nggak?”
Ya nggak lah, lo kan nggak pernah ngobrol sama gue! “Apa?”
“Sebenernya gue udah lama suka sama lo. Lo mau nggak jadi pacar gue?”
JADI PACAR LO?  GUE KENAL LO JUGA NGGAK! Tapi… “Boleh.”
“Eh?! Seriusan?”
“Duariusan kok.”
Entah apa yang gue pikirin. Kenapa gue terima, ya? Biar, ah. Lagian gue juga lagi nggak punya pacar juga kan? Ya sudahlah…

AUTHOR PoV

Sepulang sekolah, Risa terus-terusan terlihat seperti orang bingung. ‘Mereka ngomongin apa aja ya tadi? Asli gue penasaran!’ pekiknya dalam hati. Tapi rasanya baru kali itu dia melihat Harry dan Yae ngobrol bareng. Ya dia taulah, dia ‘kan selalu memperhatikan Harry.
Tiba-tiba ponsel Risa bergetar.

DRRRT~

Ternyata Harry mengirim pesan padanya. Ini pertama kalinya. Risa tidak tau harus bagaimana, yang jelas, sekarang dia senyum-senyum sendiri.
Ia membuka pesannya.

From: Harry
Risa, gue jadian sama Yae. Berarti kerjaan lo dua kali lipat, ya!
Hahaha! Xp

DEG!

Rasanya Risa ingin membanting ponselnya. Ia ingin menangis, napasnya sesak. Tapi taka da setetes pun air mata yang keluar. Padahal ia tidak menahan tangisannya. Wajahnya panas, kepalanya sakit. Bagaimana ia harus melampiaskan perasaannya yang bercampur aduk? Dia harus bagaimana?

HARRY PoV

Boleh nggak gue berharap dia bakal nolak perintah yang gw kasih bertubi-tubi?

DRRRT~

From: Risa
Wah, selamat, ya.

HANYA ITU? SINGKAT SEKALI BALASANNYA! Ih, que kira dia bakal marah karena gue bilang bakal nambah pekerjaannya dua kali lipat! Sumpah, ini cewek aneh banget!

To: Risa
Yae cantik.
Mungkin gue bakal sayang banget sama dia.

From: Risa
Terserah ah, dia kan pacar lo.

To: Risa
Gitu, ya?
Tapi sebenernya gue nggak tau gue suka sama dia atau nggak.
Tadi aja pertama kali gue ngobrol sama dia.

From: Risa
Parah.
Makanya, lo itu sesekali perhatiin dong orang ada di sekitar lo.
Gimana mau suka, kenal aja nggak.
Makanya, sering masuk sekolah.
Jangan bolos terus.

To: Risa
Biar.
Hehehe~

From: Risa
Terserah.

Eh? Kenapa gue keasikan sms-an sama Risa.

To: Risa
Udah ah, sa. Gue ngantuk. Besok liat PR, ya!

From: Risa
Iya.

Lihat? Dia selalu aja nurut. Heran gw.

[start flashback]

“Risa.”
“Ya?”
“Kerjain tugas bahasa inggris gw dong.”
“Emang kenapa?”
“Gw males.” jawab gue singkat. Baru kali ini dia nanya kenapa gw nyuruh dia. “Lo nggak mau?”
“Gw nggak bilang nggak mau kok. Tugas lo yang mana?”

[flashback end]

--(to be continued)--

Okay, I'll do It (part 2)


AUTHOR PoV

[start flashback]

“Eh, tadi gue ketemu orang lagi berantem.” ujar Risa pada dua temannya, Dea dan Vita.
“Dimana?”
“Di deket sekolah. Nggak begitu keliatan sih siapa orangnya. Yang jelas, dia anak sini.”
“Ya ampun… nggak takut ketahuan guru, apa?”
“Gw kira lo bakal ikut berantem.”
“Ya kali…” ujar Risa sinis. Kedua temannya tertawa.
Saat istirahat tiba, Risa pergi ke kantin. Tadinya bertiga, tapi kedua temannya memutuskan untuk makaan di kantin. Dia tidak ingin kembali ke kelas. Jadi ia memutuskan untuk jalan mengelilingi sekolah. Kegiatan favoritnya.
“Aduh! Jalan yang benar dong! Ini ada kaki orang!”
Risa panik. “Eh, maaf. Nggak sengaja!” Ia menatap lekat-lekat orang yang kakinya nggak sengaja dia injak tadi. “Harry?”
“Hng?” jawab Harry singkat. Yang bahkan bukan berupa sebuah kata.
“Ya ampun!” pekik Risa lebih panik lagi saat melihat wajah Harry yang babak belur dan penuh darah. “Jadi lo…”
“Apaan sih!” hardik Harry. “Udah, pergi lo! Ih, kenapa segala nangis, sih?!”
Risa sesenggukan, nggak tau kenapa juga dia tiba-tiba nangis. “Ih, nggak sakit apa?”
“Ah, nggak usah banyak tanya.”
“Mana bisa gue ninggalin lo dalam keadaan gini!”
Harry mendesah. “Ya udah, anterin gue ke mobil gue.” Risa menggeleng. “Eh, mau lo apa sih?”
“Ke UKS aja…”
“Nggak!” Harry langsung bangun. Berjalan tertatih-tatih sambil memegangi perutnya.
Risa mengejarnya. Ia melingkarkan tangan Harry di bahunya. “Lagi lo segala dateng ke sekolah babak-belur gini.”
“Peduli apa lo?”
Risa diam. ‘Aku harap aku tahu kenapa aku peduli padamu.’ batinnya. Ia hanya menggigit bawah bibirnya, menahannya agar tidak bicara sembarangan.
Harry memperhatikan bajunya. Ada sedikit bercak darah di seragamnya. “Sudah, lepas. Gue masih bisa jalan sendiri.”
Risa menggeleng.
“Lepas, Risa!” Harry menepis tangan Risa dan mendorongnya. Ia pergi meninggalkan Risa yang mematung.

[flashback end]

RISA PoV

“Risa, mau ikut ke kantin?”
“Ikut lah!”
“Ayo, cepet. Gue udah laper!”
Gue dan kedua teman gue, Dea dan Vita jalan ke kanti seperti biasa. Di jalan, kami ketemu sama Harry.
“Tas gue mana?” tanya dia tanpa basa-basi.
“Dibuang.” jawab Vita sembarang. Gue langsung mukul bahunya.
“Di kelas.” Jawab gue singkat.
“Lo mau kemana?”
“Kantin.”
“Ah, jangan lupa beliin gue lollipop!” perintah Harry, yang sangat jelas tertuju pada gue. Gue cuma ngangguk. “Ya udah sana!”
“Ih, apaan sih lo, Harry!” tukas Dea kesal. Kami lanjut jalan ke kantin.
“Risa, kenapa sih lo mesti suka sama cowok macem gitu?” tanya Vita tiba-tiba. “Dia bener-bener nggak ngerespon perhatian lo! Lo tau pasti, ya ‘kan?”
“Nggak juga nggak ngerti kenapa gue masih dan tetep suka sama dia.”
“Iya, Sa. Dia Cuma jadiin lo kayak pesuruh dia! Tanpa peduli sama perasaan lo. Tapi lo masih aja… ya ampun…” jelas Dea panjang lebar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Gue Cuma mengedikkan bahu.
“Sekarang gue tanya. Uta juga nggak ngerespon lo, De. Tapi lo juga masih suka sama dia, ‘kan?”
“Setidaknya dia nggak jadiin gue kayak pesuruhnya.”
“Gw juga. Setidaknya dengan begitu, dia ngeliat gue. Daripada nggak dianggep apa-apa.” Tambah gue sambil nunduk. Sebenernya pas ngomong itu gw pengen nangis. Ya, Cuma gw yang perhatian sama Harry. Sedangkan Harry-nya? Dia ke sekolah, Cuma nyari gue buat dia suruh-suruh.
Apa sakit? Ya iyalah!
Tapi gw bisa apa? Mana mungkin gue maksain perasaan gue ke dia. Karena gue tau… kita beda. Gue cukup bertahan begini.

HARRY PoV

LO LIAT ‘KAN TADI?
Gw nyuruh dia beliin gw lollipop aja dia mau! Gue tambah bingung sama kelakuan ini cewek satu. Padahal temen-temennya aja kesel liat kelakuan gue yang selalu nyuruh-nyuruh dia. Gue tau, mereka pasti pengen banget ngegantung gue di tiang bendera.
Gue jalan ke kelas. Gw mau bener-bener cabut hari ini. Nggak ada yang peduli juga ‘kan kalo gue nggak ada. Mungkin Risa juga bakal seneng, nggak aka nada yang nyuruh-nyuruh dia hari ini.

BRUK!

“Aduh, kalo jalan liat-liat dong!”
“Maaf,” ujar Yae. Si cewek muka cina, padahal bukan orang cina. Cantik juga. “Gue nggak sengaja.”
“Iya, maaf juga. Gw nggak liat-liat.” Hei! Kenapa gue jadi lembut gini?

--(to be continued)--

Okay, I'll do It (part 1)


RISA PoV

BRUGH!

“Nih, bawain tas gue ke kelas.”
“Eh?” Manusia itu, Harry, melempar tasnya. TEPAT KE MUKA GUE! Sakit…
“Udah, bawain aja, gue mau bolos!”
Ya udah, sebenernya bukannya gue mau nolak perintah dia. Entah kenapa, gue selalu nurutin perintah dia. Gue nggak bisa nolak. Tau kenapa?
Karena gue suka sama dia.
Ya, seandainya aja dia tau.
“Oi, Risa!”
“Ya?” sahut gue sambil nengok ke sumber suara.
“Lo tuh ya… jangan bengong di jalan!” tukas Dea. “Mikirin apa, sih?”
“Nggak mikirin apa-apa, kok! Jangan sok tau!”
“Pasti abis seneng, ya?”
“Hah?”
“Ketemu Harry ‘kan tadi?” tanyanya. Kok dia tau?!
“Tau dari mana lo?!”
“Ya terus lo megangin tas siapa lagi emangnya?”
Yap, gue langsung sadar. Dan seketika itu juga gue ngejatohin tas Harry. Gue panik luar biasa.
“Ini…”
Dea mendesah. “Lo kok mau sih? Selalu aja gitu. Apapun yang dia suruh ke lo, pasti lo kerjain.” Ia mengambil tas Harry yang jatuh. “Nih!” ujarnya sambil ngasih tas Harry ke gue.
“Nggak tau…”
“Risa. Lo ‘kan suka sama dia. Lo ‘kan maunya jadi PACAR dia. Bukan PEMBANTU!” kata Dea dengan menekankan kata ‘PACAR’ dan ‘PEMBANTU’. “Stop! Lo harus bisa nolak perintah dia!”
“Tapi…”
“Udah ah, susah ngasih tau lo. Terserah.”
“Dea, jangan marah…”
“Nggak. Udah, ayo ke kelas!”

HARRY PoV

Sumpah, demi apapun, begitu sampai sekolah kepala gue sakit. Masa gue phobia sekolahan? Lebay aja. Tapi beneran deh, gue bener-bener nggak kepengen masuk kelas. Gimana dong?
Ah, ada Risa. Kebetulan!

BRUGH!

“Nih, bawain tas gue ke kelas.”
Gue ngelempar tas gue ke… muka dia. Sorry! Sumpah, nggak sengaja. Gimana minta maafnya, ya?
“Eh?”
Hah, selalu aja gitu reaksinya. SELALU!
“Udah, bawain aja. Gue mau bolos!” Ya, pada akhirnya itulah kata yang keluar dari mulut gue. Abis itu gue pergi ninggalin dia. Gue kesel. Masalahnya…
DIA ITU ANEH!
Pertama gue ketemu dia, gue tau. Dia itu pasti tipikal cewek-cewek jaim, sok pinter, dan sebagainya. Dan yang pasti tipikal cewek macam gitu tuh pasti nggak mau berurusan sama tipikal cowok trouble maker kayak gue. Gw sih nggak peduli sama mereka. Tapi, si Risa ini aneh.
Kalo lo ngeliat gue sama dia sebagai temen sekelas. Lo salah. Karena lebih tepatnya kita itu kayak majikan dan pembantu. Gue sendiri bingung. Kenapa sih dia selalu nurutin semua perintah gue? Gue kan jadi keasikan nyuruh-nyuruh dia.

--(to be continued)--

Kamis, 18 April 2013

Krunchy Family

Tau kan, suara pas lo makan ayam goreng tepung? suara pas lo makan keripik, biskuit, kerupuk, dan teman2nya? Itulah krunchy.
Tapi disini gw bukan mau ngomongin makanan. Bahkan nggak ada hubungannya sama sesuatu hal yang bikin lo kenyang. Gw bukan mau jualan juga. *gelar lapak*
"Krunchy Family" ini cuma sebuah nama grup.

Krunchy Family beranggotakan 3 orang cewek; Kremes, Krispi, dan Kriuk. Well, entah CUMA 3 orang atau bakal ada tambahan orang. Who knows?
Grup ini sebenernya nggak punya ketua, nggak ada yang mau soalnya. Entah kenapa.
Nah, sekarang gw mau cerita tentang anggotanya satu per satu...




Kremes:

Gw harap otak lo masih pada seger buat baca ini postingan.

Si Kremes ini bisa dibilang... nggak jelas. Nggak bisa dibilang insane, dia masih waras. Dia cuma... yaaa, nggak akan ngerti kalo lo nggak liat sendiri orangnya. Tapi baik BANGET BANGET BANGET. (n*O*n)

Awal gw kenal dia, pas SMP dulu. KEBETULAN kita sekelas pas kelas satu. Tapi waktu itu juga gw jarang ngobrol sama dia. Gw inget banget, berkali2 gw mau minjem komik Death Note sama dia, tapi nggak di bawa2... hiks. Yah, karena dia bilang itu punya kakaknya sih, jadi gw nggak bisa maksa. Waktu kelas dua sih kita nggak sekelas. Nah pas kelas tiga, kita KEBETULAN sekelas lagi. Tapi disitu kita kayak nggak saling kenal. Dan seremnya... kan gw duduk di  barisan depan, jadi gw liatlah siapa aja yang lalu-lalang. Nah, setiap dia lewat, dia nyapa gw. Yang nggak biasanya adalah... DIA SELALU KETAWA KALO NGELIAT GW. Gw kan takut jadinya.

Gw skip ke SMA. Awalnya gw nggak tau kalo dia satu sekolah lagi sama gw. Pas MOS, yang gw tau dia beda kelas sama gw. Ya sudah. Terus sesudah MOS kelas gw pindah, dan gw sekelas lagi sama dia. Kita nggak SEBANGKU sih... nggak muat juga. *ditatap sinis*
Mulai dari situ kita deket. Gw shock sebenernya, waktu itu dia menceritakan rahasia dia ke gw. Bahkan disaat gw belum yakin buat menceritakan rahasia gw ke dia. Dengan santainya dia nyebutin nama(-nama) orang yang dia suka. Haha. Tapi dari semua nama yang dia sebut, cuma satu yang sampe sekarang masih dia suka. sebut aja orang itu... "RUSH" Yeah! Cocok banget namanya!!!

Dikatakan, si "Rush" ini bikin dia dag-dig-dug. Sebelum dia berpapasan sama si Rush, KATANYA, perutnya mules dan deg-degan. Kenapa bisa? Well, hanya Allah yang tahu. *angel smile*
KEBETULAN (lagi), si Rush ini satu ekskul sama gw. Dan di saat gw dan Kriuk mencoba membantu, si Rush ini salah duga. Dipikirnya, GW yang suka sama dia. (^_^) Well...

"WHAT THE HELL, MAN?!" *banting laptop*

Tapi, sebenernya gw bukan mau mengungkap kisah cinta dia. Maaf lah kalau terungkap sedikit. Gatel gitu kan tangan gw. *garuk2* Diantara ketiga cewek ini, Kremes sebenernya kayak mama mereka... saya pun ngakak...




Krispi:

Well, nggak banyak yang bisa gw tulis tentang dia. Haha. Tapi nanti saya dibilang licik.

Pertama gw kenal Krispi... nggak, gw nggak kenal sih sebenernya. Tapi menurut rumor sih... dia yang paling insane diantara ketiga cewek ini. Sebenernya sih nggak usah kenal dia, diliat aja emang mukanya keliatan insane, apalagi ketawanya. Pas SMP dia punya temen yang selama 3 tahun belajar disana, duduk sebangku sama dia. Dan temen sebangkunya itu juga tetangga dia yang tempat tinggalnya tepat menghadap rumahnya. Bergelindingan dari rumah Krispi ke rumah temennya pun bisa. 
Sayanganya, begitu masuk SMA mereka nggak satu sekolahan. Krispi gagal mengikuti ujian masuk. Jadi mereka berpisah.

Krispi itu orangnya nggak bisa sendirian. Dia... bisa dibilang kayak anggrek. Atau lintah, ya? Bukan karena bunga anggrek itu cantik. Tapi lebih ke... dia itu harus menopang pada orang lain. Dan sekalinya dia menopang, dia nggak akan lepas kalo bukan karena terpaksa. Nyusahin emang, keliatan kayak anti sosial. Jadi lebih tepatnya, begitu SMA dia menopang pada Kremes dan Kriuk. Terus, dia itu orangnya nggak enakan. Paling nggak bisa memulai percakapan. Kalo dia yang mulai, pasti jadi awkward.

Ah, terlalu banyak soal Krispi. padahal tadi gw bilang, gw nggak kenal dia. *hening*
Lalu... perlukah kita mengungkap kisah cintanya? Hmm... tidak perlu. *diamuk kremes dan kriuk*

Okay, sedikit aja ya. Krispi itu... dia suka sama senpainya. Sekian. *dilempar panci*

Alasan gw nggak menceritakan kisah cintanya si Krispi adalah... Kisah ini, KATANYA, udah jadi rahasia umum. Kenapa bisa?
Karena... dia nggak bisa nyimpen rahasia dia sendiri. Katanya sih gregetan gitu. Tapi gw ceritain lagi sedikit. *benerin posisi kacamata*

Well, hubungan dia sama senpainya itu... dibilang kenal... ya, nggak. dibilang nggak kenal... nggak juga. Nah, si Kremes dan Kriuk ini seneng banget ngegodain si Krispi. Mereka juga mencoba mendekatkan Krispi dengan senpainya, tapi nampaknya itu sulit banget. Terus ya, terus... dia udah confess ke senpainya! Kan, baka banget dia. Ck, ck, ck... *geleng2 kepala*

Sudah! Cukup tentang Krispi!!!



Kriuk:

Banyak yang bilang... cewek ini macho. Tapi menurut gw dia cewek banget. (baik kan gw?) Nggak, serius. Itu cuma sikap dia aja. Mungkin... dia terbiasa seperti itu.

Gw sebenernya... nggak banyak tau tentang cewek yang satu ini. Kenal juga baru pas masuk SMA dan kita satu ekskul. Well, gw nggak tau harus ngapain waktu itu. Secara gw itu kayak batu, dan dia... kayak air mendidih. Ya, blebep-blebep gitu... *bgm: air mendidih*
Awalnya gw nggak tahan deket2 dia. Kan dia hebring tuh orangnya, gw nggak bisa deket2 sama orang kayak gitu (waktu itu). Tapi sekarang nggak. Mungkin... gw terbiasa sama keberadaan dia?

Yang paling gw seneng dari dia itu... rambutnya. Tebel. Panjang pula. Dan gw selalu nanya, "nggak pegel apa punya rambut begitu?" dan dia jawab, "pegel sih, apalagi pas keramas sama nyisir." sumpah, encok deh ngebayanginnya. *oke lebay*
Dan dia orangnya lebih nggak enakan daripada si Krispi. Yah, sulit dijelaskan kalo nggak liat sendiri. Dia juga super nice. Dan gw mulai ngerti kenapa si Krispi menjadikan dia topangan.

Yang gw heran, kayaknya dia seneng banget bantuin kisah cinta orang lain. Sedangkan yang gw liat, dia malah mau mundur dari kisah cintanya sendiri. Haaaaaah...

Kalo soal kisah cintanya... terlalu rumit. Banyak yang (gw rasa) dia tutupin. Dan kalo orang udah bilang "nggak" gw nggak bisa maksa. Begitulah didikan orangtua saya. nggak boleh maksa. Dan dia itu selalu saja mengelak.
Tapi ada dua orang yang dia suka. Keduanya berkacamata. Sebut aja yang satu "MEGAICHOU" (megane kaichou) yang satu "MAIDGANE" (maid megane). Gw kurang tau pasti, yang mana yang lebih dia suka SEKARANG. Pertama kali sih Megaichou. Setelah dia confess... gw nggak begitu ngerti apa yang terjadi setelah itu. Nggak lama... dia suka sama si Maidgane. Begitulah...

Di Krunchy Family dia sebenernya terlihat memimpin. Nggak... dia itu... ng... mengayomi mungkin? Ya, dia baik banget.



Well, begitulah. Kurang lebihnya saya minta maaf. Yang terpenting, ini cuma pengamatan saya. Seperti inilah yang saya lihat di Krunchy Family. Si Kremes yang nggak jelas (apalagi kalo ada si rush. jadi random dia). Si Krispy yang kayak lintah, benalu, bahkan CICAK (apalagi kalo ketemu senpainya, dia pasti nempel di tembok). Dan Si Kriuk yang mencoba menjadi cupid (buat teman2nya, she's so cute).

Alhamdulillah... selesai juga. Bye2, minna~ arigatou X3










salam from Krispi :)

Rabu, 27 Juni 2012

Where Have You Been All The Time?


Tidak.


"Apa kau dengar?" Tanyanya. Ia merunduk mencari wajahku yang sedari tadi menunduk menatap permukaan sepatuku.


Tentu saja aku mendengarmu. Hanya ada kita berdua di tempat ini!


"Jadi bagaimana? Apa aku bisa mendengar jawabannya... sekarang?" Tanyanya lagi.


"Entahlah, bagaimana dengannya? Aku tidak ingin kau meninggalkannya karenaku. Bagaimanapun juga, dia temanku." Jelasku sambil terus menunduk.


"Kami sudah..."


"Tidak. Kau masih menyukainya..." Ujarku pelan.


Ia terkejut, dan langsung membantah. "Tapi bukan dia yang dari dulu kusukai!"


"Lalu apa aku harus peduli?!" Bentakku.


"Kau harus peduli kalau kau menyukaiku!" Balasnya. Dan kami terdiam sesaat. "Dulu, aku tidak tahu. makanya aku terima saat dia menyatakannya padaku." Ujarnya melunak. "Kalau saja aku tahu..."


Aku diam.


"Tapi dia tahu. Dia tahu betul kalau aku..." suaraku bergetar. "Apakah ini karena dia memberitahumu?"


"Bukan." bantahnya lembut.


"Dia mengasihaniku ya? Sudahlah..."


"Bukan begitu..." Selanya.


"Aku pergi saja." ujarku padanya.


Tiba-tiba ia menarik lenganku.


"Jangan pergi..." Ujarnya memohon. Dadaku sakit. Kakiku bergetar, begitu juga suaraku. "Ini salahku. Harusnya aku menyatakannya dari dulu..." tambahnya.


Rasanya aku akan terjatuh. Tapi bukannya badanku yang terjatuh, malah air mataku yang jatuh. "Ya, mungkin seharusnya kau mengatakannya dari dulu."