Jumat, 10 Mei 2013

Krunchy Family - "Bulir-bulir Jeruk"


Kalian tahu?

Kehidupan cinta keluarga ini makin membingungkan. Terutama si Krispi. Padahal dia yakin dia suka sama senpainya, bukan Megaichou-nya Kriuk! Tapi katanya, Kriuk sudah merelakan Megaichou-nya buat Krispi. Tetep aja, Krispi nggak mau.

Emang sih, dia pernah suka sama si Megaichou. Dan dia terus-terusan mengutuk dirinya yang pernah suka sama Megaichou. Dan Kriuk kira, Krispi suka sama senpainya cuma sebagai pelarian. YA NGGAK LAH! Dari awal juga dia udah suka sama senpainya.



Well, semua berawal di warung bakso, siang hari sepulang sekolah...
“Tau nggak? Sebenernya gue pernah suka sama si Rush, lho.” – Kriuk.
“Gue juga pernah suka sama si Maidgane.” – Kremes.
“Haha, lo juga suka pernah suka sama Megaichou, ‘kan?” – Krispi.
“Diem! Lo juga!” – Kremes.
Yah, begitulah percakapan nggak penting mereka.



Semenjak semua itu terbongkar, terlihatlah... kalo Kremes disamakan sifat juga sikapnya dengan Maidgane. Secara mereka sama-sama punya jiwa Maid gitu. Kalo mereka ngobrol pun, pasti soal pekerjaan rumah seperti menyapu, menyetrika, dan memasak. Dan Kriuk disamakan sifat juga sikapnya dengan Rush. Karena mereka sesama otaku dan gamers, mereka juga deket banget sebagai teman. Sedangkan Krispi disamakan sifat juga sikapnya dengan Megaichou. Bahkan mereka suka sama orang yang hampir sama... mukanya, tapi beda gender, senpai kembar. Semua pun udah tau kalo mereka suka sama kedua senpai kembar beda gender itu.

Tapi semakin ke sini, Krispi jarang ketemu sama senpainya. Well, secara ‘kan mereka udah selesai UN dan pada mau lulus, jadi mereka jarang banget ke sekolah, nggak pernah malah. Dibilang kangen... YA IYALAH! Tapi semakin ke sini juga, Kriuk malah semakin menjadi-jadi. Selalu aja dia pengen ngepairing Krispi sama Megaichou.



Semua berasal pada hari Rabu, di tengah pelajaran fisika... (Ya Allah, maap ya, Pak –nama disamarkan—) *sujud2*
“Gimana sih main yang ‘TRUE LOVE’ itu?” – Kremes.
“Hah? Yang gimana?” – Krispi.
“Yang nanti namanya di coret, terus ditambah-tambah. Nanti hasilnya persenan gitu.” – Kremes.
“Nggak tau.” – Krispi.
Terus, Kremes nanya Kriuk.
“Oh... gini, lho.” – Kriuk.
Jadilah, sepanjang sisa pelajaran fisika mereka main begituan. Demi apapun mereka nggak inget umur main ginian...
“Coba Kremes sama Rush!” – Krispi.
“Coba Krispi sama senpainya!” – Kriuk.
“Coba Kriuk sama Maidgane!” – Kremes.
Yah, nggak tau gimana bisa bisa, tapi semua hasil Kispi bener2 bikin orang kaget, kecuali sama senpainya.
“Gila! Makanya ‘kan gue bilang... lo sama Megaichou aja...” – Kriuk.
“Apaan sih nggak!” – Krispi.
Tapi ternyata nggak sampe situ aja kerjaan mereka. Sepulang sekolah, mereka masih main gituan di rumahnya Kriuk. Tapi sekarang mereka nyoba lewat game online. Lebih parahnya...
“Seratus persen!” – Kremes.
“Anjir! Tidak!” – Krispi.
“Udah terbukti nih, lo cocoknya sama Megaichou.” – Kriuk.
“Nggak!” – Krispi.
“Udah, senpai lo sama gue! Wahahaha!” – Kriuk.
Nah, semenjak itu lah... Kriuk menjadi-jadi.



Dan sekarang, semua itu menghantui Krispi.



Terus, waktu itu mereka jalan-jalan ke mall. Dan di situ si Kriuk masih aja ngegodain Krispi.
“Tuh, udah mulai timbul bulir-bulir jeruk ‘kan sama Megaichou...?” – Kriuk.
“Apaan sih...” – Krispi.
“Udahlah ngaku aja...” – Kriuk.
“Ih, emang nggak pernah ilang kali!” – Krispi.
Seketika itu juga, Kriuk shock dengan jawaban Krispi.

Bentar, gue mau nyanya... Kalian ngerti nggak maksud dari yang gue ceritain? Masalahnya, gue sendiri bingung gimana nyeritainnya...

Nah, ketahuanlah disutu. Ternyata si Krispi emang masih ada bulir-bulir jeruk sama Megaichou. Ngerti nggak? Jadi emang dia masih suka sama Megaichou, cuma dia nggak mau kalo bulir-bulir itu masih ada. Dan semakin dia nggak mau, bulir-bulir itu semakin banyak yang membelah diri *berasa amoeba* Satu jadi dua, dua jadi empat, empat jadi delapan, delapan jadi enambelas, enambelas jadi tigapuluhdua, tigapuluh dua jadi... *udah hoy!*

Tapi disisi lain, rasa suka Krispi ke senpainya juga nggak berkurang. Dia tambah nggak tau harus gimana disaat kedua temennya malah bikin dia bingung...

Yah begitulah... nggak penting sih, abaikan saja kalo bisa. Bye, minna~

Kamis, 09 Mei 2013

Okay, I'll do It (part 6 - END)


RISA PoV

Risa nggak berhenti-berhentinya sesenggukan. Segimanapun Vita sama Dea nenangin dia, tetep aja air mata yang keluar nggak berhenti-berhenti. Berkali-kali dia ngusap air matanya sendiri, tetep aja nggak berhenti. Napasnya sesak.
“Harusnya gue tahan tadi…”
“Udahlah, Sa… bukan salah lo kok…”
“Kalian jangan nyalahin dia terus kenapa!”
“Gue bukan mau nyalahin dia… tapi mungkin ini kehendak tuhan yang harus dia jalanin.”
“Ya ampun… kenapa harus dia…?” tanya Risa, lebih kepada dirinya sendiri. “Jangan dia… Gue aja… jangan dia…”
“Risa, nggak boleh gitu…” satu per satu, kedua temannya mulai ikut menangis. Suster-suster yang lalu lalang pun memperhatikan mereka.

[start flashback]

Saat itu jam istirahat. Tiba-tiba ponsel Risa bergetar. Ada panggilan masuk. Harry?
“Halo?”
“Halo?!” panggil suara di seberang. “Nama kamu siapa?”
“Hah? Harry, lo apa-apaan sih?”
“Eh, ini, anu… Namanya Harry, ya?”
“Ini siapa sih?”
“Ah, dia kecelakaan. Sekarang ada di RS!”
Risa membatu. Sebenarnya dia nggak percaya. Tapi…
“Rumah sakit mana?”

[flashback end]

Ditengah acara tangis-menangis gue dan kedua temen gue, tiba-tiba dokter keluar dari ruangan. Dia kebingungan melihat kami bertiga yang sama-sama menangis.
“Kalian… teman-temannya Harry?” Kami hanya mengangguk.
“Bagaimana keadaannya, dok?”
“Mm, benturan di kepalanya cukup keras, tapi dia baik-baik saja. Banyak luka memar di tubuhnya. Dia sering berkelahi, ya?” Gue mengangguk. “Hah, dasar anak muda jaman sekarang.”
“Dia baik-baik aja, dok?”
“Iya, tapi dia masih tidak sadarkan diri. Kalian nggak menghubungi orang tuanya?”
“Dok, tolong nanti jangan bilang pada orang tuanya tentang badannya yang penuh dengan luka…” ujar gue sambil nunduk. “Saya mohon…”
Nggak lama setelah gue bilang gitu, ibu Harry datang. Mereka terlihat panik. Ya iyalah, siapa yang nggak panik anaknya kecelakaan?
“Dok, bagaimana keadaan anak saya?” tanya ibu Harry.
“Dia baik-baik saja. Benturan di kepalanya memang keras, tapi ternyata dia anak yang kuat.”
“Ah, syukurlah…” ujar ibu Harry. “Siapa kalian?”
“Ah, kami teman sekolahnya.”
Ibu Harry mengajak kami masuk ke kamar rawat Harry. Duh, mataku terlihat habis nangis nggak, ya? Kan malu…
“Terimakasih ya, sudah mengabarkan tante.”
“Sama-sama tante.”
“Masalahnya anak ini tertutup banget. Apalagi dia cuma tinggal sendiri dirumahnya.” ujar ibu Harry sambil mengelus kepala anaknya. “Kalian bisa nggak jagain Harry? Sebenernya tante sibuk, tapi tante pasti sempetin dateng ke sini tiap pagi sama sore…”
Mending tante minta tolong sama pacarnya aja, deh.

HARRY PoV

“Aduh!”
Duh, kepala gue sakit. Gue dimana? Bau obat… eh iya, waktu itu ‘kan mobil gue tabrakan sama truk. Ganjen banget tuh truk… terus berarti sekarang gue ada di rumah sakit?
“Harry? Udah sadar ya?”
Kayaknya gw kenal nih suara. KAYAKNYAAA….
“Risa?”
“Bukan, Yae lho…”
Eh, salah, ya? Sumpah, malu gue anjir!
“Eh, Harry udah sadar?” tanya seseorang yang gue duga berada di dalam kamar kecil. Suaranya menggema. Gue tersenyum kecil, gue kenal banget sama ini suara.
“Belum.” teriakku menyahutinya. Yae tertawa.
“Ternyata emang nggak bisa ya, Har.”
“Hah? Maksud lo?”
“Keliatan, lho.” ucap Yae. Jangan bikin orang yang baru sadar bingung gini kenapa! Kenapa cewek kalo ngomong suka berbelit-belit sih? “Lo dari dulu suka sama Risa, ‘kan?”
“Sok tau lo!” seru gue. Dia malah nyengir. Kenapa dia bisa nebak gitu, sih? Padahal gue aja baru sadar soal itu… sebelum kejadian ini. Ya, itu pertanyaan gue terakhir kali.
“Udahlah, gue tau. Gue ‘kan merhatiin lo terus.”
“Iya, lo ‘kan suka sama gue.”
“Nah tuh tau. Hahaha.”
“Terus kita?”
“Udahlah. Waktu itu gue cuma kesel sama dia yang deket banget sama lo. Padahal dia baik banget sama lo.”
“Kita selesai, nih? Mulai aja belum…”
Tawa Yae kembali terlepas. Gue cuma bisa ngeliatin dia dengan tatapan kebingungan. “Ya iyalah.” Jawabnya. Gue kembali diserang rasa tidak enak hati. Kenapa gue jadi gini, sih?
“Maaf, ya.”
“Hmm. Gue nggak mau maksain lo, kok.” balasnya sambil tersenyum. “Maaf juga, lo baru sadar udah gue ajak ngobrolin ginian. Udah, gue balik dulu, ya. Cepet sembuh. Cepet kasih gue PJ juga, hahaha.”
Dasar.

RISA PoV

Muka gue panas. Gue masuk ke kamar mandi ini ‘kan cuma buat cuci tangan. Mereka sadar nggak sih, mereka ngobrol kenceng banget? Mana bisa gue keluar kalo obrolannya private gitu. Ih!
“… Udah, gue balik dulu, ya…”
AKHIRNYA!!!
Nggak lama gue denger suara pintu kebuka dan ketutup. Yae udah balik. Baru gw mau megang kenop pintu, BARU MAU GW BUKA TUH PINTU! Tiba-tiba…
“Risa,” Dia manggil nama gue. Eh, tolong! Gue deg-degan! “Mau sampe kapan lo di kamar mandi terus?”
“Sampe lo tidur lagi.”
“Eh, keluar lo!” serunya. “Tega banget lo nyuruh gue nungguin lo selama itu. Gue nggak akan tidur lah kalo lo nggak keluar!”
Ragu-ragu gue buka pintunya. “Kenapa?”
“Gue laper.”
“Mau makan apa?”
“Makan hati lo.”

DEG!

“A… apaan sih…”
“Sorry, Sa. Coba gue sadar lebih cepet.”
“Iya, lo tuh pingsan lama banget.” Sahut gue mengalihkan pembicaraan. Mencairkan suasana juga… SUASANA HATI GUE!!!
“Bukan itu, hoy!” balasnya. “Gue seriusan!”
“Gue juga seriusan kali. Lo tidur lama banget.” Sahut gue. “Setahun gue nugguin lo bangun.”
“Seriusan?” tanyanya panik.
“Kaga lah. Hahaha.” Jawab gue. Dia langsung cemberut. “Udah lo laper, ‘kan? Mau makan apa?”
“Makan hati lo, Risa.”
“Apaan sih, Har. Seriusan gue.”
“Ya gue juga!” Tiba-tiba suasananya hening seketika. Nggak lama dia menghela napas. “Gue baru sadar sebenernya gue juga suka sama lo, Sa. Maaf, Sa…”
“Masa lo suka sama gue…”
“Ya, kalo gue nggak suka sama lo nggak mungkin gue selalu nyari lo buat gue suruh-suruh.”
“Eh, itu bukannya…”
“Apa? Karena gue mau ngisengin lo?” Gue ngangguk. “Nggak lah, Risa.”
“Terus kenapa cuma gue yang lo suruh-suruh?”

HARRY PoV

“Karena gue mau lo marah sama gue.”
“Hah?”
“Risa lo nggak sadar apa?” tanya gue. Dia cuma menggeleng-gelengkan kepala. “Cuma gue yang perintahnya lo turutin!”
“Well, karena nggak ada lagi yang suka nyuruh-nyuruh gue selain lo.”
Ah, iya juga… “Bukan itu maksud gue…”
“Ah, gue nggak ngerti Har.” Tukasnya sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya, bingung. “Udah ah, lo makan dulu aja, ya. Baru juga sadar, ngomongnya udah bikin otak gue berputar-putar.”
“Nih, singkatnya. Gue cuma mau bergantung sama lo, Sa. Makanya gue selalu minta tolong sama lo. Bukan sama yang lain.”
“Oh, terus?” Ih, ngeselin banget ini cewek. Tapi sekilas gue liat, wajahnya memerah. Dia seneng gitu?
“Lo mau jadi pacar gue?”
“Makan dulu baru gue jadi pacar lo!”
“Seriusan?”
“Makan dulu baru gue seriusan.”
Nggak berguna gue ngebantah dia kali ini. Jadi, mending kali ini gue yang nurutin perintah dia.

AUTHOR PoV

Ya, begitulah akhirnya. Bentuk perasaan mereka emang rumit, kayak fungsi limit dan fungsi trigonometri. Nggak aka nada yang bisa ngerti akan hal itu. Tapi untung hasilnya sama.



--THE END--

Okay, I'll do It (part 5)



AUTHOR PoV

PLAK!

“Aduh, si Risa bego banget…” ujar Vita sambil nepok jidat. Dia nguping di balik tembok bareng Dea.
“Hush! Temen itu!” seru Dea sambil mukul tangan Vita.
“Lagian…” sahut Vita meringis sakit.
“Ya susah, Vit. Mau gimana? Namanya orang suka…”
“Iya lo juga sama soalnya!”
“Iya deh… beda lah yang udah move on mah!”
“Tau ah!”

Dua orang yang lainnya sama-sama mematung. Yang satu nunduk, yang satu lagi garuk-garuk leher padahal nggak gatel. Dia bingung harus gimana.
“Masa lo suka sama gue? Gue ‘kan…”
“Apa? Trouble maker?” Harry mengedikkan bahunya.
“Ya… biasanya ‘kan cewek macem lo dan temen-temen lo ngejauhin gue. Nggak ada yang mau berurusan sama gue. Ya ‘kan?”
“Udahlah… maaf…”
“Apa sih, maaf mulu.”
“Maaf gue bilang kayak gini… padahal lo baru aja jadian.”
“Ya… coba lo bilang lebih cepet. Mungkin…” seketika itu juga Harry langsung membungkam mulutnya sendiri. Sedangkan Risa membulatkan matanya. “Udah! Balik ke kelas sana!”

RISA PoV

APA MAKSUDNYA TADI?!
Ah! Gue penasaran!!! Tapi… nggak guna juga. Orangnya juga udah pergi.
Sepanjang pelajaran, gue nggak berhenti deg-degan. Perut gue mules. Masa gue phobia pelajaran? Nggak mungkin. Mana ada…
“Risa, jangan bengong mulu kenapa!”
“Tau nih, kan abis menyatakan cinta.”
“Anjir! Lo liat ya tadi?!” tanya gue panik. Mereka Cuma mengedikkan bahu. Sialan!
“Lo semangat banget menyatakan cintanya. Hahaha…”
“Kok kalian nggak marah?”
“Kenapa marah?”
“Abisnya…”
“Kita nggak marah karena lo suka sama dia. Soal cinta kita ngdukung.”
“Iya, kita cuma nggak suka sama perlakuannya! Padahal lo peduli sama dia, tapi dia malah memperlakukan lo kayak pembantu.”
“Ih, udah ah… jangan ngomongin yang nggak ada di sini…”
“Kenapa? Malu ya abis menyatakan cinta?” mereka pun ketawa. Bahagia banget ketawanya. Gue cuma cemberut ngeliatin mereka ketawa.
“Udah ah, ketawa mulu!” Gue cuma bisa nutupin muka. Asli, muka gue panas.
Meskipun gitu, tetep aja gw cengar-cengir sendiri. Gue baru sadar kalo tadi gue bilangnya di lingkungan sekolah, di ruang terbuka pula! Ah, malu!

HARRY PoV

Anjir! Ada apa dengan lidah gue?! Tadi gue mau bilang apaan coba? AAAAAAAAAH!
“Harry? Mau kemana?”
Gue berhenti lalu nengok ke arah sumber suara. Gue liat Yae muncul dari kelasnya. “Eh, gue…”
“Mau cabut, ya?” tanyanya. Gue cuma mengedikka bahu. “Jangan dong, aku mau ketemu kamu nanti pas istirahat…”
“Wah, hari ini nggak bisa. Maaf, ya…”
Parah, apa yang gue lakukan pada pacar baru gue? Parah parah parah lah! Tapi gue akhirnya sadar… gue nggak suka sama dia. Padahal biasanya gue nggak gini! Sial! Nggak tau lah! Otak gue lagi kacau.
Gue masuk ke mobil dan langsung ngendarain menuju ke jalan raya. Sebenernya gue nggak tau harus kemana. Kemana aja deh, asal gue nggak harus terlibat masalah hati. Apalagi masalah hati orang yang selalu gue suruh-suruh, seakan dia pembantu gue. Gue jadi nggak enak sama dia…
Dan gue baru sadar. Kenapa dia selalu nurutin apa kata gue. Dia suka sama gue. Apapun dia lakukan… demi bisa deket sama gue. Hah… gue nyesel nggak peka sama perhatian dia ke gue. Tapi jangan bilang… sekarang gue suka sama dia? Ah, kok gue jadi aneh gini sih?!

TIIIIIN!

BRUAGH!!!

Ah, sakit…

--(to be continued)--

Okay, I'll do It (part 4)


AUTHOR PoV

Semalaman Risa tidak bisa tidur. Perasaannya bercampur aduk. Sedih? pastilah. Cewek mana yang nggak sedih kalau orang yang dia suka jadian sama cewek lain. Senang? Iya juga. Karena baru kali ini Harry mengiriminya sms. Tentu dia senang. Tapi…
“Woi!”
“Eh! Ya ampuuun! Jangan ngagetin gue mulu kenapa!” ujar Risa sambil ngelus dada, kaget. Lalu memukul pundak Vita.
“Lagi bengon di tengah jalan gini.” Jelas Vita. “Nggak sadar tau-tau ntar udah diculik orang.” Vita terkekeh.
“Ya nggak gitu,” ujar Risa dengan wajah masam. “Lagi ada gitu yang mau nyulik gue?”
“Nggak sih kayaknya.”
“Jahat ih!”
Setelah itu, Risa terdiam lagi. Vita yang berada di sebelahnya mulai bertanya-tanya.
“Risa. lo kenapa? Kok tiba-tiba diem?”
“Harry sama Yae jadian.”
“EH?! SERIUSAN?”
“Duariusan! Elah nggak percaya banget sama gue!”
“Bukan gitu, masalahnya lo tau darimana?”
“Dia sms gue. Nih, baca aja sendiri.” Risa mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Vita.

RISA PoV

Sampai di kelas.
“Bohong!” pekik Dea. Aku langsung menutup mulutnya.
“Nggak usah teriak!” pekikku panik.
“Fix! Jangan pernah turutin dia lagi! Biar aja dia nyuruh-nyuruh pacarnya. JANGAN NYURUH LO!”
Nggak lama Dea ngomong gitu, Harry ngedatengin meja gw. Pasti minta PR.
“Sa, mana? Gue mau li…”
Baru aja gw mau ngasih bukunya, Vita langsung ngerebut. “Nggak ada! Stop nyuruh-nyuruh Risa! stop minta-minta sama dia!”
“Jangan gitu, Ta…”
“Udahlah, Sa! Bisa-bisanya lo masih peduli sama dia! Bahkan disaat dia SAMA SEKALI nggak peduli sama lo!” bentak Vita. Aduh, dada gue sakit.

HARRY PoV

Peduli? Maksud Vita apa sih? Risa peduli sama gue?
Beneran?
Ih, kenapa gue penasaran?!
“Ya udahlah, kalo nggak mau minjemin.” sahut gue di tengan acara teriak-teriaknya si Vita. “Ternyata lo juga sama kayak mereka, Sa.”
“Nggak…”
“Udahlah, kalo lo nggak mau harusnya bilang. Jangan terpaksa gitu.” Demi apapun gw penasaran. Kalo dia emang peduli sama gue dia pasti ngejar gue. Tapi kenapa gue mau banget dikejar dia?
“Gue nggak terpaksa kok…”
“Udah, gue jadi nggak kepengen liat muka lo. Gue mau cabut.” Tanpa basa-basi gw keluar kelas. Di tengah jalan gue sadar. “Aduh si bego, tas gue tinggal di kelas. Mana duit sama kunci mobil di situ lagi.”
“Harry… tas lo…”
“Ngapain lo ngikutin gw? Kan gue bilang gue nggak mau liat muka lo!”
“Maaf…”
“Udah, sini tas gue!” Ya ampun, gue kesel banget. Di saat gue yang salahpun, malah dia yang minta maaf.

Tes… tes…

“Ya ampun…” Ih, nih cewek. “Kenapa nangis sih?!”
“Maaf…”
“Apa sih! Lo nggak salah apa-apa kali!”
“Gue salah karena dulu gw nolongin lo…”
“Hah?” Duh, gue nggak biasa interaksi sama cewek macem dia sih. Apa lagi tiba-tiba nangis. “Maksud lo apa sih?” Duh, kok gue deg-degan sih?
“Karena gue nolongin lo…” KALO NGOMONG JANGAN SEPARO-SEPARO KENAPA SIH! Gue nahan napas. “Gue jadi suka sama lo!”

--(to be continued)--

Okay, I'll do It (part 3)


RISA PoV

Apa Harry masih di kelas? Tadi kayaknya dia mau beneran cabut hari ini. Tapi ‘kan tadi dia nitip lollipop. Masih ada nggak ya? Ada dong…
“Semangat banget sih mau balik ke kelas.” ucap Vita.
“’Kan ada yang nitip lollipop.”
“Ya ampun… segitunya. Hahaha…” kami bertiga pun tertawa.
Tapi tawa kami terhenti, begitu juga langkah kami. Gue nggak tau harus masuk ke kelas atau nggak. Ada moment yang nggak bisa diganggu di dalem kelas. Momen yang bikin dada gue sakit. Tapi kalo nggak masuk, gimana ngasih lollipopnya.
“Sini lollipopnya!” tukas Vita sambil menyambar lollipop dari tangan gue.
Vita membuka pintu kelas dengan kasar. Aku memperhatikannya dari luar kelas. Ia menghampiri Harry dan Yae yang sedang berduaan. Gue bahkan nggak bisa kayak gitu. Vita membanting lollipop itu di atas meja Harry.
“Terimakasih kembali!” bentaknya. Ia langsung saja keluar kelas dan membanting pintu kelas hinga menutup dengan suara yang menggelegar. Menyisakan tanda tanya di wajah Harry dan Yae.
“Wah, nampaknya ada yang mengamuk…” ujar Dea yang berdiri di sampingku. “Pergi yuk, Sa.”
“Iya, tempat ini nggak baik buat jantungmu!” seru Vita masih gondok. Gue nyengir-nyengir aja liat mereka yang begitu baik. Padahal seharusnya gue yang kesel, seharusnya gue yang sedih. Tapi mereka malah ngegantiin gue.
“Jangan sok-sok nyengir gitu…” ujar Dea. “Sedih tau litanya.”
“Ngapain sedih?”
“Tau ah!”

HARRY PoV

Apaan sih, si Vita? Maksud gue, kenapa dia marah? ‘Kan gue nyuruh Risa, bukan dia. Kenapa dia yang ngasih lollipopnya ke gue? Mana Risa?
“Harry, si Vita kenapa?” lamunan gue buyar. Gw natap dia.
“Entah.”
“Harry, tau nggak?”
Ya nggak lah, lo kan nggak pernah ngobrol sama gue! “Apa?”
“Sebenernya gue udah lama suka sama lo. Lo mau nggak jadi pacar gue?”
JADI PACAR LO?  GUE KENAL LO JUGA NGGAK! Tapi… “Boleh.”
“Eh?! Seriusan?”
“Duariusan kok.”
Entah apa yang gue pikirin. Kenapa gue terima, ya? Biar, ah. Lagian gue juga lagi nggak punya pacar juga kan? Ya sudahlah…

AUTHOR PoV

Sepulang sekolah, Risa terus-terusan terlihat seperti orang bingung. ‘Mereka ngomongin apa aja ya tadi? Asli gue penasaran!’ pekiknya dalam hati. Tapi rasanya baru kali itu dia melihat Harry dan Yae ngobrol bareng. Ya dia taulah, dia ‘kan selalu memperhatikan Harry.
Tiba-tiba ponsel Risa bergetar.

DRRRT~

Ternyata Harry mengirim pesan padanya. Ini pertama kalinya. Risa tidak tau harus bagaimana, yang jelas, sekarang dia senyum-senyum sendiri.
Ia membuka pesannya.

From: Harry
Risa, gue jadian sama Yae. Berarti kerjaan lo dua kali lipat, ya!
Hahaha! Xp

DEG!

Rasanya Risa ingin membanting ponselnya. Ia ingin menangis, napasnya sesak. Tapi taka da setetes pun air mata yang keluar. Padahal ia tidak menahan tangisannya. Wajahnya panas, kepalanya sakit. Bagaimana ia harus melampiaskan perasaannya yang bercampur aduk? Dia harus bagaimana?

HARRY PoV

Boleh nggak gue berharap dia bakal nolak perintah yang gw kasih bertubi-tubi?

DRRRT~

From: Risa
Wah, selamat, ya.

HANYA ITU? SINGKAT SEKALI BALASANNYA! Ih, que kira dia bakal marah karena gue bilang bakal nambah pekerjaannya dua kali lipat! Sumpah, ini cewek aneh banget!

To: Risa
Yae cantik.
Mungkin gue bakal sayang banget sama dia.

From: Risa
Terserah ah, dia kan pacar lo.

To: Risa
Gitu, ya?
Tapi sebenernya gue nggak tau gue suka sama dia atau nggak.
Tadi aja pertama kali gue ngobrol sama dia.

From: Risa
Parah.
Makanya, lo itu sesekali perhatiin dong orang ada di sekitar lo.
Gimana mau suka, kenal aja nggak.
Makanya, sering masuk sekolah.
Jangan bolos terus.

To: Risa
Biar.
Hehehe~

From: Risa
Terserah.

Eh? Kenapa gue keasikan sms-an sama Risa.

To: Risa
Udah ah, sa. Gue ngantuk. Besok liat PR, ya!

From: Risa
Iya.

Lihat? Dia selalu aja nurut. Heran gw.

[start flashback]

“Risa.”
“Ya?”
“Kerjain tugas bahasa inggris gw dong.”
“Emang kenapa?”
“Gw males.” jawab gue singkat. Baru kali ini dia nanya kenapa gw nyuruh dia. “Lo nggak mau?”
“Gw nggak bilang nggak mau kok. Tugas lo yang mana?”

[flashback end]

--(to be continued)--

Okay, I'll do It (part 2)


AUTHOR PoV

[start flashback]

“Eh, tadi gue ketemu orang lagi berantem.” ujar Risa pada dua temannya, Dea dan Vita.
“Dimana?”
“Di deket sekolah. Nggak begitu keliatan sih siapa orangnya. Yang jelas, dia anak sini.”
“Ya ampun… nggak takut ketahuan guru, apa?”
“Gw kira lo bakal ikut berantem.”
“Ya kali…” ujar Risa sinis. Kedua temannya tertawa.
Saat istirahat tiba, Risa pergi ke kantin. Tadinya bertiga, tapi kedua temannya memutuskan untuk makaan di kantin. Dia tidak ingin kembali ke kelas. Jadi ia memutuskan untuk jalan mengelilingi sekolah. Kegiatan favoritnya.
“Aduh! Jalan yang benar dong! Ini ada kaki orang!”
Risa panik. “Eh, maaf. Nggak sengaja!” Ia menatap lekat-lekat orang yang kakinya nggak sengaja dia injak tadi. “Harry?”
“Hng?” jawab Harry singkat. Yang bahkan bukan berupa sebuah kata.
“Ya ampun!” pekik Risa lebih panik lagi saat melihat wajah Harry yang babak belur dan penuh darah. “Jadi lo…”
“Apaan sih!” hardik Harry. “Udah, pergi lo! Ih, kenapa segala nangis, sih?!”
Risa sesenggukan, nggak tau kenapa juga dia tiba-tiba nangis. “Ih, nggak sakit apa?”
“Ah, nggak usah banyak tanya.”
“Mana bisa gue ninggalin lo dalam keadaan gini!”
Harry mendesah. “Ya udah, anterin gue ke mobil gue.” Risa menggeleng. “Eh, mau lo apa sih?”
“Ke UKS aja…”
“Nggak!” Harry langsung bangun. Berjalan tertatih-tatih sambil memegangi perutnya.
Risa mengejarnya. Ia melingkarkan tangan Harry di bahunya. “Lagi lo segala dateng ke sekolah babak-belur gini.”
“Peduli apa lo?”
Risa diam. ‘Aku harap aku tahu kenapa aku peduli padamu.’ batinnya. Ia hanya menggigit bawah bibirnya, menahannya agar tidak bicara sembarangan.
Harry memperhatikan bajunya. Ada sedikit bercak darah di seragamnya. “Sudah, lepas. Gue masih bisa jalan sendiri.”
Risa menggeleng.
“Lepas, Risa!” Harry menepis tangan Risa dan mendorongnya. Ia pergi meninggalkan Risa yang mematung.

[flashback end]

RISA PoV

“Risa, mau ikut ke kantin?”
“Ikut lah!”
“Ayo, cepet. Gue udah laper!”
Gue dan kedua teman gue, Dea dan Vita jalan ke kanti seperti biasa. Di jalan, kami ketemu sama Harry.
“Tas gue mana?” tanya dia tanpa basa-basi.
“Dibuang.” jawab Vita sembarang. Gue langsung mukul bahunya.
“Di kelas.” Jawab gue singkat.
“Lo mau kemana?”
“Kantin.”
“Ah, jangan lupa beliin gue lollipop!” perintah Harry, yang sangat jelas tertuju pada gue. Gue cuma ngangguk. “Ya udah sana!”
“Ih, apaan sih lo, Harry!” tukas Dea kesal. Kami lanjut jalan ke kantin.
“Risa, kenapa sih lo mesti suka sama cowok macem gitu?” tanya Vita tiba-tiba. “Dia bener-bener nggak ngerespon perhatian lo! Lo tau pasti, ya ‘kan?”
“Nggak juga nggak ngerti kenapa gue masih dan tetep suka sama dia.”
“Iya, Sa. Dia Cuma jadiin lo kayak pesuruh dia! Tanpa peduli sama perasaan lo. Tapi lo masih aja… ya ampun…” jelas Dea panjang lebar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Gue Cuma mengedikkan bahu.
“Sekarang gue tanya. Uta juga nggak ngerespon lo, De. Tapi lo juga masih suka sama dia, ‘kan?”
“Setidaknya dia nggak jadiin gue kayak pesuruhnya.”
“Gw juga. Setidaknya dengan begitu, dia ngeliat gue. Daripada nggak dianggep apa-apa.” Tambah gue sambil nunduk. Sebenernya pas ngomong itu gw pengen nangis. Ya, Cuma gw yang perhatian sama Harry. Sedangkan Harry-nya? Dia ke sekolah, Cuma nyari gue buat dia suruh-suruh.
Apa sakit? Ya iyalah!
Tapi gw bisa apa? Mana mungkin gue maksain perasaan gue ke dia. Karena gue tau… kita beda. Gue cukup bertahan begini.

HARRY PoV

LO LIAT ‘KAN TADI?
Gw nyuruh dia beliin gw lollipop aja dia mau! Gue tambah bingung sama kelakuan ini cewek satu. Padahal temen-temennya aja kesel liat kelakuan gue yang selalu nyuruh-nyuruh dia. Gue tau, mereka pasti pengen banget ngegantung gue di tiang bendera.
Gue jalan ke kelas. Gw mau bener-bener cabut hari ini. Nggak ada yang peduli juga ‘kan kalo gue nggak ada. Mungkin Risa juga bakal seneng, nggak aka nada yang nyuruh-nyuruh dia hari ini.

BRUK!

“Aduh, kalo jalan liat-liat dong!”
“Maaf,” ujar Yae. Si cewek muka cina, padahal bukan orang cina. Cantik juga. “Gue nggak sengaja.”
“Iya, maaf juga. Gw nggak liat-liat.” Hei! Kenapa gue jadi lembut gini?

--(to be continued)--

Okay, I'll do It (part 1)


RISA PoV

BRUGH!

“Nih, bawain tas gue ke kelas.”
“Eh?” Manusia itu, Harry, melempar tasnya. TEPAT KE MUKA GUE! Sakit…
“Udah, bawain aja, gue mau bolos!”
Ya udah, sebenernya bukannya gue mau nolak perintah dia. Entah kenapa, gue selalu nurutin perintah dia. Gue nggak bisa nolak. Tau kenapa?
Karena gue suka sama dia.
Ya, seandainya aja dia tau.
“Oi, Risa!”
“Ya?” sahut gue sambil nengok ke sumber suara.
“Lo tuh ya… jangan bengong di jalan!” tukas Dea. “Mikirin apa, sih?”
“Nggak mikirin apa-apa, kok! Jangan sok tau!”
“Pasti abis seneng, ya?”
“Hah?”
“Ketemu Harry ‘kan tadi?” tanyanya. Kok dia tau?!
“Tau dari mana lo?!”
“Ya terus lo megangin tas siapa lagi emangnya?”
Yap, gue langsung sadar. Dan seketika itu juga gue ngejatohin tas Harry. Gue panik luar biasa.
“Ini…”
Dea mendesah. “Lo kok mau sih? Selalu aja gitu. Apapun yang dia suruh ke lo, pasti lo kerjain.” Ia mengambil tas Harry yang jatuh. “Nih!” ujarnya sambil ngasih tas Harry ke gue.
“Nggak tau…”
“Risa. Lo ‘kan suka sama dia. Lo ‘kan maunya jadi PACAR dia. Bukan PEMBANTU!” kata Dea dengan menekankan kata ‘PACAR’ dan ‘PEMBANTU’. “Stop! Lo harus bisa nolak perintah dia!”
“Tapi…”
“Udah ah, susah ngasih tau lo. Terserah.”
“Dea, jangan marah…”
“Nggak. Udah, ayo ke kelas!”

HARRY PoV

Sumpah, demi apapun, begitu sampai sekolah kepala gue sakit. Masa gue phobia sekolahan? Lebay aja. Tapi beneran deh, gue bener-bener nggak kepengen masuk kelas. Gimana dong?
Ah, ada Risa. Kebetulan!

BRUGH!

“Nih, bawain tas gue ke kelas.”
Gue ngelempar tas gue ke… muka dia. Sorry! Sumpah, nggak sengaja. Gimana minta maafnya, ya?
“Eh?”
Hah, selalu aja gitu reaksinya. SELALU!
“Udah, bawain aja. Gue mau bolos!” Ya, pada akhirnya itulah kata yang keluar dari mulut gue. Abis itu gue pergi ninggalin dia. Gue kesel. Masalahnya…
DIA ITU ANEH!
Pertama gue ketemu dia, gue tau. Dia itu pasti tipikal cewek-cewek jaim, sok pinter, dan sebagainya. Dan yang pasti tipikal cewek macam gitu tuh pasti nggak mau berurusan sama tipikal cowok trouble maker kayak gue. Gw sih nggak peduli sama mereka. Tapi, si Risa ini aneh.
Kalo lo ngeliat gue sama dia sebagai temen sekelas. Lo salah. Karena lebih tepatnya kita itu kayak majikan dan pembantu. Gue sendiri bingung. Kenapa sih dia selalu nurutin semua perintah gue? Gue kan jadi keasikan nyuruh-nyuruh dia.

--(to be continued)--