Senin, 21 Mei 2012

Watashi no VERSION


Hansel & Gretel
Dahulu kala, di sebuah desa yang berada di pinggir hutan yang gelap, hiduplah seorang Ibu dangan ketiga anaknya. Seorang anak perempuan kandung bernama Annabelle, dan dua orang anak tiri. Yang laki-laki bernama Hansel dan yang perempuan bernama Gretel. Sehari-harinya mereka hidup miskin. Bekerja di ladang untuk makan sehari-hari dan dijual ke pasar di desa.
Suatu hari, desa mereka dilanda kekeringan. Tanaman sayur dan buah tidak tumbuh di ladang yang kering. Mereka juga tidak bisa menyiram tanaman karena sumur di rumah mereka ikut kering.
Berminggu-minggu dilanda kekeringan, membuat sang ibu tak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan hidupnya dan anak-anaknya. Hingga pada suatu hari Annabelle memberitahu ibunya apa yang sudah ia rencanakan untuk bertahan hidup.
Annabelle        : (berbisik) “Begini, bagaimana kalau kita buang Hansel dan Gretel ke hutan? Dengan begitu Ibu tidak usah berpikir untuk member makan mereka.”
Ibu                  : (sangat kaget) “Apa maksudmu? Kita tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja!”
Annabelle        : (berbisik dan menggeleng) “Tenang, bu. Kita tidak akan meninggalkan mereka begitu saja. Sebelumnnya kita berpura-pura akan pergi piknik di hutan sambil membawa sedikit makanan. Tapi bukan untuk kita, bu. Lalu bilang kita akan berpura-pura mengambil hasil hutan untuk di bawa pulang. Saat itu lah kita akan meninggalkan mereka dengan makanan.”
Ibu                  : (sangat khawatir dan hampir menangis) “Bagaimana kalau mereka dimakan hewan buas saat kita meninggalkan mereka?”
Annabelle        : (berbisik dan tersenyum) “Tenanglah, Ibu. Mereka anak yang kuat. Mereka pasti bisa bertahan hidup di hutan.”
Setelah berpikir dengan amat sangat keras dan lama sekali, dengan enggan sang ibu menyetujui rencana putri kandungnya. Sayangnya bukan hanya Annabelle dan Ibunya yang mengetahui rencananya. Hansel dan Gretel pun tahu.
Setelah mendengar percakapan antara Annabelle dan Ibunya, Hansel dan Gretel pun kembali ke kamar. Gretel terduduk di kursinya sambil terisak dan berbicara pada Hansel.
Gretel              : (terisak) “Aku tidak menyangka mereka akan membuang kita.”
Hansel            : (diam menatap lantai)
Gretel              : (terisak) “Apa kita bisa bertahan hidup di hutan yang gelap itu, Hansel?”
Hansel            : (diam menatap keluar jendela)
Gretel              : (kesal) “Hansel!”
Di luar jendela kamarnya, Hansel melihat banyak batu berwarna putih yang bercahaya terkena sinar bulan. Dan itu memberinya ide.
Hansel            : (berlari ke pintu sambil tersenyum) “Tenang saja, Gretel. Kita akan selamat!”
Gretel              : (bingung) “Mau kemana kau, Hansel?”
Hansel            : “Tunggu di sini, aku akan kembali.”
Sampai di depan jendela kamarnya, Hansel langsung memungut banyak sekali batu. Sampai memenuhhi kantong celananya. Setelah itu ia kembali masuk ke kamarnya dan melihat Gretel sudah terlelap.
Keesokan harinya, sang Ibu menyiapkan makanan dan dimasukkan ke keranjang piknik. Lalu ia membangunkan Hansel dan Gretel. Memakaikan mereka baju hangat dan topi, serta kaus kaki dan sarung tangan.
Ibu                  : “Pakailah ini, mungkin di sana dingin.”
Gretel              : (bingung) “Ibu, sekarang ‘kan musim panas.”
Ibu                  : (wajah sedih) “Iya, Ibu tahu.”
Mereka berempat berjalan menyusuri jalan setapak di hutan. Annabelle dan Gretel berjalan di samping Ibu mereka. Sedangkan Hansel di belakangnya sambil membuang batu sepanjang jalan.
Annabelle        : (kesal) “Cepatlah, Hansel. Jangan tertinggal!”
Hansel            : (melempar batu di belakang) “Memang kita mau piknik dimana, bu?”
Annabelle        : (kesal) “Di hutan tentu saja!”
Hansel            : (membuang muka) “Aku ‘kan bertanya pada ibu.”
Ketika menemukan tanah yang luas untuk duduk, sang ibu memutuskan tempat ini cukup aman untuk meninggalkan Hansel dan Gretel. Ia membuka perbekalannya dan memberikan masing-masing anaknya sebuah roti.
Ibu                  : (mendesah) “Tunggu di sini, ya.”
Annabelle        : (mengikuti ibu)
Gretel              : (takut) “I, Ibu mau kemana?”
Ibu                  : (tersenyum sedih) “Ibu hanya mencari ranting kering sebentar.”
Dan Sang Ibu bersama Annabelle pun menghilang di hutan yang gelap.

Langit mulai gelap. Sinar matahari yang hangat pun berganti menjadi bulan yang dingin dan gelap. Suara penghuni hutan yang indah berganti menjadi suara yang mengerikan. Hansel membuat api unggun sendirian, sedangkan Gretel meringkuk bergetar ketakutan.
Hansel            : “Kemarilah, Gretel. Di sini hangat.”
Gretel              : (ketakutan dan menangis) “Hansel, ibu benar-benar membuang kita. Bagaimana ini?”
Hansel            : (tersenyum) “Tenanglah, Gretel. Bukan ibu yang membuang kita. Kau ingat ‘kan siapa yang punya rencana ini? Lagipula kita akan selamat. Kita hanya harus menunggu lebih malam lagi.”
Gretel              : (bingung) “Lebih malam lagi?”
Hansel            : (mengangguk) “Lebih malam lagi!”
Tak lama, Hansel berseru gembira pada saudarinya.
Hansel            : (berteriak menunjuk jalan setapak) “Gretel, ayo lihat! Ayo lihat!”
Gretel              : (kaget) “Ada apa? Kenapa jalannya bercahaya?”
Hansel            : (tersenyum bangga) “Batunya bercahaya. Inilah yang kutunggu sedari tadi. Sekarang kita bisa pulang dengan mengikuti cahaya batu ini.”
Lalu bersama-sama, mereka mengikuti cahaya dari batu menuju rumah. Di sepanjang jalan, Hansel memunguti batunya untuk berjaga-jaga. Dan tiba di rumah, sang ibu menangis terisak ketika melihat Hansel dan Gretel kembali ke rumah. Dalam hati ia berjanji tidak akan melakukanya lagi. Sedangkan Annabelle berdiri di samping ibunya. Merasa kesal karena rencananya gagal. Karena itu, sekarang ia punya rencana baru.
Annabelle        : (menggerutu) “Kalau ibu tidak bisa membawa mereka, aku yang akan melakukannya.”

Keesokan paginya, Annabelle membangunkan kedua adik tirinya. Hansel dan Gretel kebingungan. Tapi Annabelle sudah punya rencana. Dan kali ini dia tidak boleh gagal.
Annabelle        : “Hari ini kita akan membantu ibu mencari buah-buahan dan kacang-kacangan di hutan. Kalian tahu ‘kan kebun kita tidak menghasilkan apa-apa?”
Hansel            : (bingung) “Entahlah, kebun kita hanya beristirahat, kurasa.”
Annabelle        : (kesal) “Kau, Gretel! Bagaimana? Kau mau menbantu Ibu, ‘kan? Kau tidak ingin Ibu kesusahan, ‘kan?”
Gretel              : (menggeleng sedih) “Tentu tidak.”
Annabelle        : “Bagus, ayo pergi.”
Dan tanpa sepengatahuan sang Ibu, Annabelle membawa pergi kedua adiknya pagi-pagi sekali.
Hansel sudah menduga akan ada hal-hal seperti ini terjadi. Makanya ia sudah berjaga-jaga selalu membawa batunya. Dan sambil berjalan memasuki hutan, ia membuang satu per satu batunya di belakang dengan jarak dua langkah kakinya.
Sesaat sebelum tengah hari, Annabelle mengira mereka sudah berjalan cukup jauh, dan ia berpikir untuk mulai keluar dari jalan setapak dan masuk lebih dalam.
Annabelle        : “Nah, mulailah mencari buah-buahan dan kacang-kacangan. Hati-hati dengan beri beracun!”
Gretel              : (mencari Hansel) “Hansel! Kau sedang apa?”
Hansel            : (berbisik) “Mencari batu yang putih dan bercahaya seperti kemarin malam, kalau-kalau kita ditinggal lagi.”
Gretel              : “Oh, berhati-hatilah, Hansel. Jangan terlalu jauh. Aku tidak suka sendirian.”
Hansel            : (mengangguk)
Annabelle        : (berteriak) “Hei! Cepat!”
Selagi Hansel dan Gretel sibuk dengan kegiatan masing-masing, Annabelle menjauh. Dan setelah berada cukup jauh dan tidak terlihat, Annabelle kabur keluar hutan sambil tersenum lebar.
Gretel yang sudah mengambil banyak buah-buahan dan kacang-kacangan, langsung mencari Hansel.
Gretel              : (meletakkan keranjang dan berteriak) “Hansel! Annabelle menghilang! Dia meninggalkan kita!”
Hansel            : (menghampiri Gretel) “Tenanglah. Aku sudah membuat jejak dengan batu.” (melihat keranjang) “Wah, kau mengumpulkan banyak sekali buah.”
Gretel              : “Ya, di sini banyak sekali buah. Apa kau lapar?”
Sekali lagi, Hansel membuat api unggun. Dan bersama-sama, mereka memenuhi perut dengan makanan yang di dapat Gretel.
Gretel              : “Makanan kita masih cukup untuk malam nanti. Jadi, kita tetap menunggu di sini?”
Hansel            : “Memang apa yang bisa kita lakukan?”
Gretel              : “Entahlah, tapi aku tidak suka disini.”
Hansel            : “Kalau begitu kita berjalan-jalan saja. Siapa tahu kita menemukan sungai atau danau. Aku haus.”
Dan pergilah mereka, masuk ke dalam hutan.
Hansel            : (membuang batu ke belakang) “Gretel, kita tidak bisa pergi terlalu jauh. Nanti kita tersesat.”
Gretel              : “Tentu tidak. Aku sudah mendengar suara air. Pasti didekat sini.”
Benar saja, tidak jauh dari tempat mereka mengambil buah dan membuat jejak, terdapat aliran sungai kecil yang jernih.
Hansel            : (gembira) “Yei!” (meminum air sungai)
Gretel              : “Benarkan dugaanku.” (melihat Hansel) “Pelan-pelan, Hansel.”
Gretel ikut minum bersama Hansel. Ia mengisi tempat minumnya dengan air. Lalu ia melihat banyak lagi buah-buahan yang bisa diambil dan mulai memetiknya.
Mereka kembali ke tempat Hansel membuat api unggun. Apinya sudah padam. Dan Hansel membuat api lagi. Malam itu mereka makan banyak sekali. Mereka salng mendekatkan diri ke api agar hangat. Hingga mereka hampir tertidur.
Gretel              : (kaget) “Hansel! Kita tidak boleh tertidur!”
Hansel            : (menguap) “Tapi, Gretel. Aku mengantuk.”
Gretel              : “Hansel, bangunlah. Lebih baik kita berjalan pulang. Batumu harus menunjukkan jalan pulang pada kita.”
Hansel            : (mengantuk) “Hmm, begitukah? Baiklah…”
Dan mereka pun berjalan menyusuri jalan setapak—lagi. Tapi, Hansel dan Gretel tidak melihat satu pun cahaya bulan yang di pantulkan batu.
Hansel            : (bingung) “Ah! Kenapa gelap sekali?”
Gretel              : (bingung) “Tidak ada satupun batumu yang bercahaya, Hansel.”
Hansel            : (panic dan melihat sekeliling) “Kau benar.” (meraba jalan) “Kurasa karena batunya hilang!”
Gretel              : (menahan tangis) “La, lalu bagaimana?”
Hansel            : “Aku tidak tahu.”
Tiba-tiba, mereka melihat satu cahaya dari batu Hansel di jalan setapak. Saat Hansel mencoba mengambil batu itu, seekor burung gagak berhasil terlebih dahulu mengambilnya.
Hansel            : (kesal) “Apa?! Jadi batuku dicuri burung gagak?!”
Gretel              : “Mereka melihat batumu bercahaya.”
Hansel            : “Berarti kita harus bermalam di hutan, Gretel.”
Gretel              : (ragu) “Ba, baiklah…”
Sebelm tidur,—untuk kesekian kalinya—Hansel membuat api unggun. Tapi kali ini, ia membuatnya lebih kecil. Dan sekali lagi, mereka makan sedikit makanan yang ada.
Hansel            : (menguap) “Aku mengantuk sekali.”
Gretel              : (menguap) “Aku juga.”
Hansel            : “Kalau begitu selamat tidur, Gretel.”
Gretel              : “Ya, selamat tidur juga, Hansel.”

Hansel dan Gretel terkejut saat mereka terbangun di kasur yang empuk. Dan mereka mencium aroma kue yang dipanggang. Gretel juga mendengar suara yang sedang bersenandung.
Gretel              : (berbisik) “Hansel! Bangunlah!”
Hansel            : (menguap) “Ada apa, Gretel?” (kaget) “Wangi apa ini?”
Gretel              : (kesal) “Hansel! Kau tahu di mana kita?”
Hansel            : (sadar) “Ah! Kau benar! Lebih baik kita cepat pergi!”
Mereka mengendap-endap keluar dari rumah itu. Mereka kaget melihat halaman depan rumah.
Hansel            : (menyentuh pagar) “Apakah ini cokelat?” (menyentuh dinding) “Jangan bilang, ini kue cokelat?”
Gretel              : (menyentuh jendela) “Dan ini gula?” (menjilat tangannya) “Manis sekali.”
Ketika mereka asik mengunyah pagar, menjilati jendela, dan menggenggam kue di tangan yang satunya lagi, Seseorang berteriak dari dalam rumah.
Pembuat Kue   : “Hei, siapa yanga memakan rumahku?!!!”
Hansel            : (berhenti menyunyah) “Tidak ada.”
Gretel              : “Benar, hanya angin.”
Lalu mereka melanjutkan mengunyah, menjilat, dan menggenggam. Dan lagi-lagi seseorang berteriak. Kali ini ia mendatangi Hansel dan Gretel.
Pembuat Kue   : “Hei! Jangan makan rumahku!”
Hansel dan Gretel menyebunyikan kue yang mereka genggam di belakang badan. Seketika itu juga Si Pembuat Kue tersenyum.
Pembuat Kue   : “Hei, apa kalian lapar?”
Mereka mengangguk.
Pembuat Kue   : “Kalau begitu jangan makan rumahku! Lebih baik kalian masuk.”

Hansel dan Gretel masuk. Mereka melihat meja yang penuh dengan makanan. Ada roti panggang dan telur mata sapi dan daging asap dan susu dan selai dan mentega. Dan taplak meja disusun rapi, serta lilin dan bunga. Si Pembuat Kue menyuruh mereka mencuci tangan dan membersihkan tubuh sebelum makan.
Pembuat Kue   : “Siapa nama kalian?”
Hansel            : (menunjuk diri sendiri) “Namaku Hansel.” (menunjuk Gretel) “Dan ini adikku, Gretel.”
Pembuat Kue   : “Ah, ayo duduk dan makanlah.”
Hansel dan Gretel makan dengan lahap. Mereka menyukai tempat itu dan berpikir untuk tinggal disana sementara. Si Pembuat Kue sangat baik. Ia membiarkan mereka makan kue seharian, selain rumahnya—tentu saja.
Berminggu-minggu Hansel dan Gretel hidup bersama Si Pembuat Kue. Mereka menjadi gemuk dan malas. Sampai Hansel pun terlalu malas untuk mencari adiknya yang di kurung Si Pembuat Kue di kandang kambing.
Tidak lama, Si Pembuat Kue memasukkan Hansel untuk memeriksa oven.
Pembuat Kue   : “Hansel, periksalah oven untuk adikmu. Bilang padaku kalau ovennya sudah cukup panas.”
Hansel            : “Bagaimana kalau sudah panas?”
Pembuat Kue   : (kesal) “Tubuhmu akan terbakar dan mengeluarkan harum daging yang dipanggang.”
Hansel pun mengerti. Si Pembuat Kue meninggalkannya di dalam oven yang menyala. Saat menunngu, Hansel mencium harum daging panggang.
Hansel            : (mengendus) “Oh, aku terbakar! Dan tubuhku tercium seperti daging sapi panggang.”
Dan ternyata…
Hansel            : (merogoh kantong) “Oh, ternyata daging yang kusimpan di kantong. Wanginya enak sekali.” (memakan daging)
Pembuat Kue   : (mencium harum daging) “Apakah ovennya sudah panas?”
Hansel            : (mengunyah sambil menggeleng)
Pembuat Kue   : (mendesah) “Baiklah.” (pergi)
Hansel            : (menggerutu) “Harusnya tadi kubilang ‘sudah’. Tapi, ya sudahlah…”
Setelah mengahabiskan makanannya, lagi-lagi Hansel mencium aroma daging panggang. Begitu juga Si Pembuat Kue.
Hansel            : (mengendus) “Oh, aku terbakar! Dan tubuhku tercium seperti bebek panggang.”
Dan ternyata…
Hansel            : (merogoh kantong yang lain) “Oh, ternyata daging yang kusimpan di kantong. Wanginya enak sekali.” (memakan daging)
Pembuat Kue   : (mencium harum daging) “Apakah sekarang ovennya sudah panas?”
Hansel            : (mengunyah sambil menggeleng)
Pembuat Kue   : (mendesah) “Aneh.” (pergi)
Hansel            : (menggerutu) “Harusnya tadi kubilang ‘sudah’. Tapi, ya sudahlah…”
Setelah mengahabiskan makanannya, sekarang Hansel baru merasakan kulitnya panas terbakar. Dengan senyum yang lebar, Si Pembuat Kue menghampiri.
Hansel            : (mengendus) “Oh, aku terbakar!” (mengendusi tubuhnya) “Dan wanginya enak!”
Pembuat Kue   : (mencium harum daging) “Kalau sekarang pasti sudah panas.”
Tapi lagi-lagi Hansel menggeleng.
Pembuat Kue   : (kesal) “Apa? Masa belum panas juga?!”
Ia masuk ke dalam oven untuk memeriksanya. Saat ia berada di dalam oven, Hansel mengendap keluar dan menutup pintu oven.
Si Pembuat Kue berteriak.
Pembuat Kue   : “Hansel! Keluarkan aku! Kumohon, maafkan aku!”
Hansel            : “Hmm, bagaimana ya…? Kurasa ini untuk anak-anak lain yang sudah menjadi korbanmu.”

Hansel meningalkan Si Pembuat Kue yang berteriak di dalam oven dan kabur bersama adiknya, Gretel. Sekarang mereka mencari cara agar mereka bisa pulang. Tapi sebelum pulang, mereka mencari keranjang buah yang dulu digunakan Gretel untuk buah-buahan dan kacang-kacangan, dan mengisinya dengan makan dan kue.
Gretel              : “Jadi, kau tahu bagaimana caranya pulang?”
Hansel            : “Tentu saja. Ingat bagaimana burung gagak mengambil batu di jalan? Kita akan mengikuti mereka.”
Gretel              : “Kenapa?”
Hansel            : “Karena di halaman rumah kita banyak batu putih itu.”
Akhirnya saat senja datang, mereka melihat banyak burung gagak terbang di langit. Mereka mengikuti burung-burung itu. Dan benar tebakan Hansel. Burang gagak itu pergi ke rumah mereka dan memunguti batu-batu putih itu. Hansel dan Gretel berlarian menghambur ke halaman rumahnya. Sang ibu melihat kedua anaknya kembali. Ia langsung membuka pintu dan memeluk mereka. Dan bersama-sama mereka—serta Annabelle—bekerja untuk bertahan hidup.
THE END
--------------------------------------------------------------------------------
Sumber inspirasi :

Adik-adik kecilku,
(yang membaca cerita Hansel & Gretel berulang kali sampai bukuku lecek nggak karuan, haduh)

Adam Gidwitz,
(penulis yang “amazing” entah bagaimana cara kerja otaknya, hahaha)

Grimm Bersaudara,
(para tetua di dunia dongeng Hansel & Gretel, aku padamu, HAHAHA)

dan

Imajinasi super anehku yang tak dapat dihentikan,
(sebagai orang yang berada di bawah sang amatir, nggak nyangka bakalan selesai sekitar 10 halaman dalam waktu 3 atau 4 jam. mepet banget deh pokoknya, aku nggak ingat. apalagi soal burung gagak, ya ampun)



Hahaha! Kebanyakan improve. Menggabungkan cerita Grimm Bersaudara versi jaringan network dan cerita versi tuan Adam Gidwitz, aku suka mereka semua. Kapan-kapan aku juga ingin punya buku seperti mereka. Yah, dengan cerita lain, tentu saja.

Entahlah, rasanya aku bisa mendengar semua pikiran teman-temanku, “Hansel & Gretel kan cerita yang membosankan. Cuma ada rumah kecil, hutan, anak miskin, dan kue.” Begitulah, padahal saya nggak bisa denger apapun yang mereka pikirin. Karena memang anak seumur mereka harusnya menyukai cerita cinta dan bergalau ria, menyedihkan. Bukannya aku tidak suka, tapi saat melihat tatapan mereka, rasanya aku ingin bilang apa mereka bisa membuat cerita yang sama menariknya dengan cerita yang tuan-tuan tadi—yang tersebut di atas—buat? Makanya, aku senang sekali saat kedua adik-adikku menyukai cerita Hansel & Gretel. Tapi, mungkin anak-anak kecil hanya tertarik pada rumah kuenya. Aku sendiri memang tertarik dengan rumah kuenya. Hahaha.

Saat tadi aku bilang ingin punya buku seperti mereka, aku sungguh-sungguh. Entah kapan, aku akan membuatnya dan menerbitkannya. Meskipun ceritaku takkan seindah cara mereka menceritakan dongeng-dongeng itu, akuu tidak akan menyerah. Yah, tapi sepertinya nggak akan ada nuansa dua anak yang berkelana di hutan. Hng, sepertinya akan jadi seperti… yah, kau tahulah, namanya juga anak remaja.

Terakhir, yang baca komen, ya~ J thanks!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar